The Great Hunter – mbak mayang diteras rumahnya

Tiba-tiba Mbak Mayang menjepit pinggangku dengan kedua belah pahanya dengan kuat disertai jeritan kecil yang tertahan.
“Wawan.. oohh.. akuu.. mmff..!” penisku terasa berdenyut-denyut dan tersedot dengan hebat, terasa hangat, geli-geli basah.
Dia telah mencapai orgasme, aku pun tanpa sadar memeluk wanita berjilbab itu dengan erat sambil mengecup bibirnya..

Halo rekan pemburu gadis berjilbab, salam ketemu lagi dengan aku, wawan sang pemburu gadis berjilbab heheheh. Nah, pada kesempatan ini aku mau cerita tentang kemudahanku menggaet gadis berjilbab melalui media yang sedang in pada waktu ini yaitu internet. Heheheheheh. Nhaaa seperti yang banyak kita ketahui, internet sekarangs eperti lampu bagi laron2 yangs edang etrbang. Hampir semua orang di dunia ini tersambungkand engan internet. Tak terkecuali gadis2 berjilbab yang jadi sasaranku heheheheheh. Nhaaa mudahnya dengan internet, semua bisa kita tulis dan biasanya orang lebih jujur dengan dirinya. Jadi, kalo kita sedang menargetkan seorang gadis berjilbab, lebih mudah dan cepat mendapatkan kepercayaannya kalo kita lewat internet karena memang lebih mudah bicara dari hati ke hati. Tapi, biasanya kalo kita salah tebak dan salah ambil tindakan, juga mudah hilangnya.

Nhaaa ini kisahku dengan target baruku. Target baruku adalah seorang wanita muda berjilbab bernama Mayangsari Arumadewi, yang kupanggil mbak mayang karena memang usianya lebih tua dariku. Kukenal wanita manis berjilbab berkulit agak gelap namun cantik ini melalui jejaring sosial facebook. Dia berusia 28 tahun dan telah bersuami yang bekerja diluar kota sehingga seringkali hanya seminggu sekali pulang kerumah. Untungnya sang suami tidak tahu account facebook yang Mbak mayang pakai berhubungan denganku, sehingga aku dengan mudah bisa melancarkan rayuan2 mautku berkedok curhat2 palsu heheheheheh. Setelah beberapa waktu DKT, akhirnya mbak mayang mulai mau membuka rahasianya bahwa dia eorang wanita yang mempunyai libido tinggi dan ia selalu kesepian jika suaminya tidak ada dirumah. Wah, kebetulan ni heheheehheeh. Terus kukorek, akhirnya aku dapat no hpnya, juga alamat rumahnya. Ingin ku segera kerumah mbak mayang yang ternyata masih bersama orangtuanya, namun kupending beberapa saat lagi, karena kupakai untuk semakin memantapkan PDKTku melalui telepon.

Sejak saat itu aku selalu menemani mbak mayang melalui line telepon ketika Mbak Mayang kesepian. Bahkan aku akhirnya seringkali berhasil menggiring pembicaraan kami untuk menyerempet hal-hal yang agak “nakal”. Kalau sudah begitu, biasanya nada bicara Mbak Mayang berubah menjadi sedikit berbisik berat seperti orang bangun tidur sementara aku semakin yakin untuk segera meksekusinya eheheheh.

Tak terasa satu bulan sudah kami berhubungan melalui facebook dan dilanjutkan telepon tanpa pernah bertemu muka. Suatu malam, ketika aku sedang menelpon Mbak Mayang dan suara gadis berjilbab itu terdengar mulai berat dan mendesah yang kuyakini karen aterangsang karena pembicaraan “nakal” kami, aku segera mengambil kesempatan.

“mbak Mayang, boleh gak aku main kerumah?” tanya diriku langsung.

“emm… kapan..” tanya wanita berjilbab itu balik setelah berpikir sebentar.

“sekarang..” jawabku cepat, mumpung momen tepat eheheheh.

“gila kamu..” jawab mbak mayang pelan. Suaranya terdenagr semakin berat.

“ya nggak gila mbak.. gapapa yah.. aku kesana..ortu juga dah tidur kan..” kataku karena sudah tahu kalau ortunya sudah tidr pada jam itu.

“ehh.. tapi.. iya deh… tapi.. motornya dimatiin sebelum sampai rumah ya.. malu kalo dlihat orang..” kata wanita berjilbab itu lagi.

“ok bos..” jawabku sambil segera bergegas kerumahnya, mumpung dia mau eheheheh.

Sekita 30 menit kemudian, jam 21.15 malam aku sampai ke kampungnya, yang ternyata memang sudah sangat sepi. Nampak semua orang sudah masuk kerumah mereka masing2, dan diluar sudah tidak nampak tanda2 orang diluar. Aku segera mengendarai motorku ke arah rumah mbak mayang. Untung aku seorang petualangs ejati, sehingga arah2 yang wanita berjilbab itu berikan padaku, aku tahu betul. Sekitar 4 rumah sebelum sampai didepan rumahnya, kumatikan mesin motorku dan kutuntun kerumahnya. Ternyata sang wanita berjilbab yang kesepian itu sudah menunggu dengan diam didepan rumahnya.

“wawan ya?” sapa wanita berjilbab itu sambil mengulurkan tangan.

“Ya, mm.. Mbak Mayang ya.. salam kenal.. belum pernah ketemu yah.,” aku membalas dengan senyum. Kalo cuman nampak cool didepan cewek mah keciiiiiil eheheheh..

“Maaf ya, rumahnya jauh yah..” katanya kemudian.

“Nggak apa-apa kok Mbak, saya juga sekalian jalan2.”, jawabku santai.

Sosok tubuh Mbak Mayang lumayan tinggi saja, tingginya 165 cm, berat sekitar 50 kg, kulitnya agak gelap namun halus. Jilbab yang ia pakai membuatnya semakin cantik. Wajah wanita berjilbab itu ayu memancarkan kelembutan dan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mungilnya yang tipis membuat aku ingin segera melumatnya. Saat itu mbak mayang memakai jilbab kecil hijau dengan bahan tipis, kaos ketat lengan panjang dan rok hitam, nampak cantik dan manis.

“Kita kesamping rumah yuk, motornya dituntun kesamping rumah aja..”, ajak mbak mayang sambil berjalan didepanku menunjukkan jalan.

Rumah mbak mayang yang terlihat besar terlihat khas, sama seperti rumah gaya desa dikampungnya, tidak memakai pagar besi yang tinggi dan rapat. Pekarangannya hanya dipagari dengan pagar tembok setinggi sekitar 1 meter tanpa pintu gerbang. Segera kutuntun motorku kesamping rumah mbak mayang, yang didepannya banyak tumbuh pepohonan buah2an dan semak sehingga tidak terlihat dari jalan kampung.

Aku diajak masuk ke teras samping rumahnya, yang agak masuk kedalam. Sepertinya tempat itu bukan teras yang biasa dipakai menerima tamu karena disitu hanya ada sebuah kursi bambu yang biasa dipakai tiduran, dan tidak ada perabot lain.

“duduk wan..” kata mbak mayang pelan. “disini aja ya… gak enak kalo didepan tar dilihat orang, dan dekat dengan kamar bapak ibu..” kata mbak mayang, lalu dia masuk sebentar, keluar lagi dengan dua gelas muniman jahe hangat.

“Jadi, ada apa, malam2 maksa main kesini?” tanya mbak mayang setelah duduk di sebelahku. Tempat duduk yang sempit membuat bada n kami berdekatan.

“ooh, aku kan cuman mau nemeni mbak…”

akhirnya kami bercakap-cakap dan terlarut dalam percakapan kami. Kemmapuanku dalam menguasai suasana juga nampaknya membuat mbak mayang rileks dan walaupun kami masih harus berbisik2 karena takut terdengar orang tuanya, mbak mayang sudah nampak lebih santai.

Pelan2 tubuhku kugeser lebih merapat ketubuh Mbak Mayang, lalu dengan santai tanpa gerak kejut, kusentuh tangannya dan kubelai. Mbak mayang tertegun, memandang tanganku, lalu memandang mataku. Dari kerutan di dahinya, wajah cantik mbak mayang berusaha menolak perbuatanku namun bibir tipisnya tidak mengucapkan sepatah katapun.

Pelan2 kuremas tangan kiri mbak mayang yang ada paling dekat denganku sambil terus menatap matanya. Wanita berjilbab itu memandangku terus, namun kudengar nafasnya mulai kembali berat. Terlihat wanita berjilbab yang sudah beberapa minggu tidak disentuh suaminya karena ada tugas keluar daerah itu mulai menikmati rangsangan lembutku.

Kemudian kurangkul perlahan pundak mbak mayang, lalu kutarik kepalanya yang terbungkus jilbab agar menyandar di bahuku dan kupegang tangan kanannya sambil terus memandangnya. Mbak mayang menggelengkan kepalanya sambil sedikit meronta, namun rontaan itu lenyap dengan segera karena aku mengusap jari-jariku ke pipinya, dan ke kepalanya yang terbalut jilbab. Tatapan Mbak Mayang kepadaku berubah dari tatapan marah, menjadi sayu. Mata kami saling menatap dalam jarak yang sangat dekat, kemudian kuberanikan tanganku mengangkat dagunya dan mencium bibirnya yang tipis. Mbak Mayang memejamkan mata diam saja, tidak menolak dan juga tidak membalas ciumanku, bibirnya masih terkatup rapat. Aku jadi semakin nekat, kukecup lagi bibirnya dengan sekali-kali mengulumnya.

Akhirnya Mbak Mayang bereaksi juga, bibirnya terkuak sedikit dan dia membalas ciumanku, lama sekali kami berciuman sampai kemudian Mbak Mayang menghentikannya sambil mendesahkan namaku.

“jangan wawan..mbak udah bersuami..” kata mbak mayang dan sedikit berontak, tapi tak mampu menahanku. Kutarik tangannya, lalu kuciumi jari2nya. tidak hanya kuciumi, aku juga mulai memasukkan jari halus wanita cantik berjilbab itu ke dalam mulutku dan mengulumnya dengan disertai jilatan-jilatan halus dan kugigit-gigit kecil.

“jangan waan.. ada yang liat..”, bisiknya.
“gak ada mbak.. tenang aja..”, bisikku sambil melepas tangannya dan berganti mengecup pipinya lalu kugigit2 telinganya dari luar jilbabnya. Mbak Mayang menggelinjang kegelian, membuatku semakin bergairah menciumi daerah sensitif wanita alim berjilbab itu. Akhirnya istri alim berjilbab yangs edang kesepian itu mulai takluk juga, kurangsang diters rumahnya digelapnya malam.

“Aaahh Wawan..” Mbak Mayang mendesah lagi.
“Kamu nakal..”
“Tapi suka kan..?” kataku sambil merengkuh wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Pelan2 Kali ini Mbak Mayang membalas ciumanku dengan bergairah sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku, sehingga lidah kami saling berpagutan. Tangan Mbak Mayang mulai meremas dadaku. Aku pun tak mau kalah, kuusapkan tangan kiriku pada daerahdadanya dari luar kaos ketatnya, lalu tanganku menyusup ke dalam blusnya.

“Hmm..” terdengar Mbak Mayang menggumam dalam kuluman bibirku.
“Ouuhh.. uuhh..” desah wanita berjilbab itu sambil tangannya mencengkeram leherku ketika kuremas dadanya dan kuraba puting susunya dari balik BH.
“aduuh,, jangan dibuka, waan..” kata Mbak Mayang ketika aku menyingkap kaos dan BH-nya dan kurogoh dadanya yang kenyal. Tak sabar, kutarik tangan kanan Mbak Mayang agar selangkanganku. kuremas-remaskan tangannya ke batang kemaluanku yang sudah tegang dari luar celana. Mbak mayang semakin keras  mengerang dan mendesah sementara bibir kami terus berciuman dan mengulum lidah. Kupilin puting susu Mbak Mayang dengan jari-jariku sambil meremas dadanya. Ingin sekali rasanya aku menciumi dada itu serta menghisap dan menjilati putingnya. Tangan Mbak Mayang pun kini tanpa kupaksa sudah dengan sendirinya mengusap dan meremas selangkanganku.

“Buka dong Waan..” desah Mbak Mayang sambil berusaha untuk membuka zipper celanaku. Akhirnya wanita berjilbab itu tidak tahan juga. Kulepaskan pelukanku untuk membantunya membuka kait ikat pinggangku, lalu dengan sigap Mbak Mayang memasukkan tangannya ke dalam celanaku dan melanjutkan meremas batang kemaluanku yang masih tertutup celana dalam. Sesekali tangannya merogoh lebih dalam untuk meremas biji-biji kemaluanku. Uuhh.. nikmatnya.

Mbak Mayang lalu menyandarkan kepalanya di dadaku, disingkapnya celana dalamku ke bawah sehingga batang kemaluanku kini terbebas dan mengacung seutuhnya seakan memperlihatkan kesiagaannya. Kurasakan kehangatan tangan Mbak Mayang ketika mencengkeram batang kemaluanku, meremasnya dan mengusap-usapkan ibu jarinya pada kepala batang kemaluanku, membuatku mendesis menahan rasa geli yang mengalirkan nikmat di sekujur tubuhku. Ternyata wanita alim berjilbab ini pandai juga melakukan hand job eheheheh.

Karena tak kuat menahan nafsuku, kurengkuh wajah Mbak Mayang dengan tangan kiriku dan kucium bibir wanita berjilbab itu yang merekah di hadapanku sementara tangan kananku memeluk bahunya. Kami berciuman lama sekali dengan saling memilin lidah di dalam mulut. Kurasakan tangan Mbak Mayang semakin intens meremas dan mengocok batang kemaluanku, sementara mulut wanita berjilbab itu sesekali menggumam dalam pagutanku ketika dirasakannya tanganku mengelus daerah sensitif dibuah dadanya yangs ekarang sudah terbuka tanpa penutup apapun karena kaos dan Bhnya sudah kusingkapkan.

Tangan kiriku meremas dadanya yang kenyal serta mempermainkan puting susunya dengan jari-jariku. Mbak Mayang merubah posisi duduknya dengan bersandar di dadaku dan memindahkan kendali atas batang kemaluanku ke tangan kirinya.

“Aaahh.. oouuhh..” Mbak Mayang medesah ketika aku kembali memilin kedua puting susunya yang telah mengeras dan kemudian kulihat tangan kanan wanita berjilbab itu bergerak ke bawah menggosok-gosok selangkangannya dan tangan kirinya semakin keras mencengkeram batang kemaluanku sambil mengusap kepala kejantananku dengan ibu jarinya. Kurasakan aliran darah di selangkanganku bertambah cepat dan deras, menimbulkan sensasi kenikmatan yang tak terbayangkan.

“Mbak pengen, Wawaan..” desah wanita berjilbab itu sambil menarik satu tanganku ke mulutnya dan kemudian menjilati dan mengulum jariku dengan penuh nafsu.

“pengen banget ya mbak?” tanyaku. Mak mayang hanya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya menahan nafsu. Wajah wanita berjilbab itu merah padam karena birahi. kurebahkan dengan perlahan-lahan tubuh indah di kursi bambu diteras samping rumahnya itu dan kukecup bibirnya, wanita manis berjilbab itu diam saja, dengan nafas yang masih berat menahan nafsu birahi. Targetku turun ke kedua bukit padat dengan putingnya yang mengeras tapi nikmat. Kusingkap jilbabnya dan terlihat jelas dadanya yang sekal. Desahan nikmat terdengar dari mulutnya ketika aku menghisap serta menggigit-gigit kecil kedua puting susunya.

“Ooohh.. Waan.. teruuss Wawaanhh..!” jerit wanita berjilbab itu perlahan dan tertahan-tahan, aku terus mengulum susunya dan putingnya dengan kegilaan yang memuncak.

Bibirku menyapu kedua susunya, terus turun ke arah perut, pusar, kujilat sekeliling pusarnya sambil tanganku meremas lembut kedua susunya yang montok serta putih itu. Tangannya Mbak Mayang menggenggam dengan kuat pada rambutku yang pendek serta tipis itu sambil menjepitkan kedua kakinya yang indah ke badanku.

Wanita berjilbab itu mendesahdan merintih tidak kuat akan rangsanganku. aku tetap berusaha menguasai diriku jangan sampai aku lepas kendali. Kulepaskan remasan tanganku pada kedua susunya yang montok itu, kusingkap rok panjang hitamnya sampai kepinggangnya dan kutarik lepas CD yang berwarna kuning pupus yang terlihat basah pada bagian bawah. Sekarang semua bagian sensitif mbak mayang sudah terbuka bebas menunggu untuk aku jamah, dengan jilbab yang masih terpakai. Perlahan-lahan aku turun menciumi pusarnya, lalu berpindah di atas vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang aslinya lebat. Rupanya mbak mayang amat rajin mengguntinginya sehingga terasa halus dan rapih terlihat. Kujilati dengan lembut, terus turun menyentuh belahan vagina indah itu, kunikmati bibir indah itu perlahan-lahan dengan tangan kiriku membuka kedua belah bibir vagina itu.

Tiba-tiba, dengan disertai jeritan kecil, Mbak Mayang menekan kepalaku ke arah vaginanya sambil mendesah, “Wawan.. oohh.. ngg.. nikmaatt.. Waanhh..!”
Aku mulai merasakan denyutan yang tidak teratur di balik CD-ku, dengan tangan kananku kuturunkan celanaku dan CD-ku sampai lutut sehingga penisku bebas bergantung dan aku yakin dengan ketegangannya mulai mencapai titik atas. Sementara mulutku, lidahku terbenam di antara bibir vagina Mbak Mayang yang terasa basah dengan keluarnya cairan bening dengan aroma yang khas, agak asin, kental dan kunikmati, kuhisap serta kutelan tanpa pikir panjang. Kukecup klitorisnya yang mungil. Dia menjerit kecil. Mbak Mayang menggoyangkan pantatnya naik turun disertai erangan dan desahan nikmat kadang jeritan-jeritan kecil. Sementara kepalaku tetap dengan tangan kanan wanita berjilbab itu ditekannya di atas vaginanya yang kunikmati habis-habisan sementara tangan kiri wanita berjilbab itu meremas dan memuntir susu dan putingnya sendiri disertai desahan-desahan nikmat yang keluar dari mulutnya.

Dia mengerang panjang, “Ooohh Wawan.. aku keluaarr.. mmff..” sambil menjepitkan kedua pahanya yang mulus di kepalaku sampai aku sulit bernafas.
Akhirnya terasa jepitan itu berangsur-angsur melemah dan Mbak Mayang tergeletak sambil membukakan kedua pahanya dan aku bisa menghirup udara segar sejenak.

Ini saatnya, pikirku. Segera aku bangun, naik ke kursi panjang bambu dan merayap di atas tubuh indah yang masih mengenakan jilbab itu, penisku yang bergelantung di pangkal pahaku terasa bertambah tegang serta berdenyut-denyut, kugesek-gesekkan dengan bulu-bulu vaginanya Mbak Mayang.

“mbaak.. aku juga sudah nggak tahan.. sekarang yaa..?” jawabku sambil memegang penisku yang kuarahkan ke vagina wanita berjilbab itu yang merekah karena pahanya sudah terbuka lebar-lebar.
“Pelan-pelan Wawan.. penismu besaarr, oohh..” rintih wanita alim berjilbab yang cantik itu lirih.
Kutempelkan kepala penisku ke bibir indah itu dan perlahan-lahan kutekan masuk sedikit demi sedikit, bukan main sempitnya seperti vagina perawan, mbak mayang mengeluh pendek.
“pelan pelaan.. mmff..Terus Wawan.. emmff.. teruus Wawan.. enaakk, oohh..” desah kenikmatan terdengar lembut di kupingku.

“Bleess..!” akhirnya masuk semua 16 cm batang penisku ke dalam vagina Mbak Mayang yang memang sempit dan terasa agak dalam.
Aku merasakan ujung penisku tertahan sesuatu dan berdenyut-denyut karena mbak mayang sepertinya merasakan nikmatnya sambil mempermainkan otot vaginanya. oohh nikmat sekali rasanya, dan aku mulai menggerakkan turun naik pantatku, Mbak Mayang refleks menggoyangkan pinggul seirama dengan gerakan pantatku.
“Aaahh.. Sayaangg.. enak sekali goyanganmu, teruuss.. oohh..” aku sendiri merintih penuh nikmat.

Ada kira-kira 5 menit kami saling bergoyang dan berpagut. Kukecup bibir wanita berjilbab itu yang tipis dan berwarna merah muda basah itu dan mbak mayang membalas dengan gigitannya yang menambah gairahku. Kukecup kedua puting susunya bergantian dan rintihannya tiada henti-hentinya terdengar dan kurasakan aku tidak tahan lagi.
“Ooohh.. sayaangg.. aku nggak tahan lagi..” rintihku dekat telinganya yang harum.
Tiba-tiba Mbak Mayang menjepit pinggangku dengan kedua belah pahanya dengan kuat disertai jeritan kecil yang tertahan.
“Wawan.. oohh.. akuu.. mmff..!” penisku terasa berdenyut-denyut dan tersedot dengan hebat, terasa hangat, geli-geli basah.
Dia telah mencapai orgasme, aku pun tanpa sadar memeluk wanita berjilbab itu dengan erat sambil mengecup bibirnya, kami berpagut entah berapa lama seolah-olah tidak akan saling melepaskan. Kutekan pantatku sedalam-dalamnya sehingga penisku tenggelam habis ke dalam vagina seret wanita berjilbab itu, tenggelam habis.
Dan, “Sroott.. sroott.. sroott..” entah berapa banyak air maniku yang kusemprotkan di dalam vagina Mbak Mayang. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Kami berdua mencapai klimaks orgasme pada saat yang sama, Aku masih tertelungkup lelah di atas tubuh indah yang cantik itu. Peluh sudah membanjiri tubuh kami berdua, bahkan jilbab yang mbak mayang masih kenakanpun basah karena keringat. Kami berdua terdiam beberapa saat, berbaring kelelahan di kursi panjang bambu di teras samping rumah mbak mayang yang sunyi. Setelah beberapa saat mengumpulkan tenaga, kami segera membenahi baju kami kembali. Mbak mayang memakai kembali celana dalamnya yang jelas akan basah oleh spermaku yang tadi kusemprotkan ke vaginanya. Untuk beberapa saat, kami terduduk membisu berdampingan, masih terengah2 mengumulkan tenaga. Kulirik mbak mayang, yang nampak kelelahan namun masih cantik memakai jilbabnya. Dia nampak bingung harus marah karena aku telah menzinahinya, atau tersenyum karena aku telah memberinya kenikmatan. Aku tahu wanita berjilbab yang sudah bersuami itu telah aku taklukkan.