MALAPETAKA ROFI’AH

Tangan Pak Johan memegang pinggang Rofi’ah dan mulai menarik maju mundur badan Rofi’ah, sehingga pompaan penisnya dalam memek Rofi’ah semakin keras dan cepat. Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur.

Desa itu desa terpencil, yang berada ditepi sebuah hutan yang besar dan gelap. Karena keterpencilannya, maka jarang sekali ada orang yang mesuk ke desa itu. Setelah lama tidak pernah ada pendatang, pada suatu hari datanglah sepasang suami istri muda. Sang suami, Farid, adalah seorang guru SD yang dengan sukarela mau mengajar di desa terpencil itu. Sementara sang istri, Rofi’ah, ikut sebagai pendamping, dan membantu mengajar TPA di masjid kecil di tengah desa.

Segera mereka berdua menjadi terkenal. Farid, berusia 28 tahun, yang guru dan sangat pandai dalam hal agama sering diminta menjadi pembicara pengajian sampai ke desa2 tetangga yang lumayan jauh, selain juga menjadi guru di SD2 tetangga yang kekurangan guru. Rofi’ah, seorang ibu muda cantik yang baru berusia 22 tahun, sangatlah populer dikalangan anak2 dan ibu2. Kelembutannya dalam berbicara, kepandaiannya dalam hal agama, dan kesabarannya dalam menghadapi anak2 membuatnya menjadi idola di desa itu.

Rofi’ah adalah seorang yang taat beragama. Wajahnya yang putih dan luarbiasa cantik sungguh mengundang banyak pria, jikalau ia tidak menjaganya. Karena itu, jilbab lebar selalu ia pakai. Tubuhnya yang bahenol. Dan sangat montok juga ia tutupi dengan jubah longgar. Walaupun begitu, tetap saja wajah yang cantik putih dan tubuh bahenolnya tidak bisa 100% disembunyikan, dan masih membayang pada jubah longgarnya.

Banyak pria yang merasa terangsang saat melihat Rofi’ah melintas. Apalagi jika angin menerpa jubah longgarnya, membuat tubuhnya semakin terlihat jelas terbayang dari luar jubahnya yang tertiup angin. Namun mereka hanya bisa memendamnya dalam hati, atau paling jauh onani sambl mambayangkan bersetubuh dengan Rofi’ah, wanita alim yang bahenol. Kepopulerannya membuat para pria itu merasa takut mengganggunya.

Namun ternyata ada saja orang yang memang benar2 menginginkannya. Mereka adalah pak Arman dan rekan2nya, para pemburu yang suka keluarmasuk hutan. Tabiat mereka yang kasar dan berangasan membuat mereka tidak peduli. Mereka sunguh ingin merasakan tubuh seorang ibu muda cantik bahenil yang berjilbab, yang menyembunyikan tubuh indahnya didalam jubah longgar. Justru jubah longgar dan jilbab lebar itu membuat mereka semakin penasaran dan terangsang.

Pada suatu hari, Farid dipanggil kekoya untuk mengkuti pembekalan guru tingkat lanjut. 3 hari ia harus pergi, dan karena ada masjid yang harus dikelola, Rofi’ah tidak ikut. Kesempatan itu sungguh digunakan oleh pak Arman dan rekannya untuk menuntaskan napsunya pada ibu muda alim yang ,montok itu.

Saat malam tiba, setel;ah sholat Isya’, Rofi’ah pulang menyusuri jalanan desa yang sangat gelap, melintasi pinggiran hutan. Tiba-tiba ia disergap dan dipukul pada bagian tengkuk, yang membuat ibu muda berjilbab cantik itu pingsan. Ternyata sang penyerang adalah pak arman. Ibu muda itu dibawa ke tengah hutan. Diperjalanan, ia mulai tersadar, dan meronta-ronta. Segera pak arman menjatuhkannya dan langsung mengancamnya.

“diam kamu!! Mau kubunuh, hah?!!” katanya sambil mengacungkan senjata pembunuh babi kearah Rofi’ah. Rofi’ah kaget bukan kepalang. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Akhirnya, dibawah todongan senjata, dengan pasrah wanita berjilbab itu digiring masuk lebih jauh ke dalam hutan. Dia sengaja diajak berjalan berputar-putar supaya bingung kalau mencoba melarikan diri.

Rasanya sudah berjam-jam mereka masuk ke dalam hutan. Rasa takut, ditambah haus dan lapar membuat Rofi’ah makin tersiksa, apalagi di sepanjang perjalanan berkali-kali tangan usil para pemburu itu juga sibuk meraba dan mencubiti bagian-bagian tubuh Rofi’ah yang masih tertutup jilbab dan jubah lebar. Jilbabnya disampirkan kepundaknya, sehingga membuat para pemburu itu leluasa meremas2 buahdada gadis berjilbab itu yang luar biasa montok. Pantat Rofi’ah yang mulus dan sekal menjadi bagian yang paling favorit bagi tangan para pemburu itu. Diperlakukan demikian Rofi’ah hanya bisa menahan tangis dan rasa ngerinya.

Mereka kemudian sampai di sebuah pondok kayu kecil, tapi kokoh karena terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Anehnya mereka tidak mambawa Rofi’ah masuk ke dalam pondok kayu itu, tapi hanya diluarnya. Wanita montok berjilbab itu berusaha meronta tapi menghadapi tiga pria yang jauh lebih kuat darinya perlawanannya hanyalah usaha yang sia-sia.

“Nah.. Ibu yang cantik.. sekarang waktunya kamu harus menerima hukuman dari kami, karena sudah membuat penunggu hutan ini resah…” ujar Pak Arman sambil matanya menyapu ke sekujur tubuh Rofi’ah yang tertutup jilbab yang tersingkap, dan jubah yang sudah terbuka dua buah kancing atasnya. Rofi’ah bingung. “aa…aaa….apa salah saya paaak…” tanyanya. “diam!! Tubuhmu yang montok itu sudah bikin penghuni hutan ini resah tau!! Kamu harus mempersembahkan tubuhmu itu kepada mereka!!” bentak pak arman lagi. Rofi’ah semakin panik. Ia sadar, ia akan diperkosa. Ia terus berusaha berontak, namun dua orang rekan pak arman yang semuanya bertubuh tinggi besar tidak bisa ia kalahkan. Segera ia menyerah kalah, sambil menangis tersedu-sedu.

“Hmm.. hukumannya apa ya..” Pak Arman bergumam tidak jelas seolah bertanya pada dirinya sendiri.

“Ah iya… Mbak Rofi’ah, hukuman buat Mbak yang pertama adalah menari buat kami.. tapi dengan catatan, sambil menari, Mbak harus buka jubah, kutang sama celana dalam Mbak. Jilbabnya biarin saja. Sampirkan aja di pundak…” kata Pak Arman datar, nyaris tanpa emosi, menyembunyikan napsunya pada wanita berjilbab, yang pernah ia rasakan saat memperkosa seorang gadis alim yang sedang KKN di desa sebelah. Memek mereka benar2 seret dan legit. Rofi’ah tersentak, seketika tubuh wanita bahenol berjilbab itu gemetar..

Rofi’ah terkesiap, dia tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian telanjang. Tubuhnya gemetar karena shock, dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis yang semakin kencang.

“Jangan!” pinta Rofi’ah dengan pasrah. “anda minta apa saja, silahkan… tapi jangan seperti itu…”

“Hehehehe.. ” Pak Arman menyeringai. “Kalau mau lari juga tidak apa-apa, paling-paling Mbak hanya akan bertemu macan di sekitar sini. Lagipula tidak ada yang tahu tempat ini selain kami.”

Rofi’ah gemetar ketakutan, air matanya semakin deras mengaliri pipinya yang mulus. Rofi’ah tahu dia tidak punya pilihan lain, dia memang tidak tahu jalan pulang, ditambah kemungkinan benar ucapan Pak Arman tentang harimau yang masih berkeliaran. Wanita berjilbab itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba pasrah.

“Bagaimana Non..?” Pak Arman bertanya datar. Rofi’ah diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Tawa ketiga pemburu itu langsung meledak penuh kemenangan.

“Horee.. Asiik.. hari ini kita bakal dapat tontonan bagus, jarang lho ada wanita alim, berjilbab lebar secantik Mbak mau menari bugil buat kami,” kata Pak Man – yang dari tadi diam saja – dengan nada dibuat-buat.

Rofi’ah menunduk sambil menggigit bibirnya menahan malu dan takutnya yang makin memuncak. Ia merasa bersalah terhadap suaminya, Farid yang sedang ada di kota.

“Tunggu dulu, pakai musik dong..” kata Pak Arman, dia lalu masuk ke pondokan dan keluar lagi membawa sebuah tape recorder kecil bertenaga batere. Ketika disetel, alunan musik dangdut mulai bergema di sekitar tempat itu.

“Nah.. ayo dong Non.. mulai goyangnya..” kata Pak Arman mengimbangi suara musik yang lumayan keras.

Rofi’ah mencoba pasrah. Dia lantas mulai menggoyangkan tubuhnya dengan gerakan gerakan erotis yang coba ia tiru dari joged para penyanyi dangdut di TV. Tangannya diangkat ke atas lalu pinggulnya digoyang-goyangkan membuat seluruh tubuhnya berguncang. Seketika mereka bertiga bersuit-suit melihat goyangan pinggul dan pantat Rofi’ah. Apalagi saat Gadis berjilbab itu mulai membuka kancing jubahnya satupersatu. Saat ia merasa sangat malu dan sejenak berhenti, senjata berburu pak Arman teracung padanya, membuatnya takut dan segera melanjutkan goyangannya. Ketiga pemburu itu terdiam saat jubah Rofi’ah meluncur turun ke tanah, memperlihatkan tubuh yang sangat montok, putih dan mulus tanpa cacat. Birahi mereka langsung memuncak.

“Buka kutangnya! Buka! Kami mau lihat pentilnya,” teriak mereka sambil terus memelototi Tubuh Rofi’ah yang bergoyang erotis. Wanita alim yang bahenaol itu lalu perlahan mulai melepas Bra yang menutup payudaranya lalu melemparkannya ke tanah. Payudara Rofi’ah sekarang tergantung telanjang begitu putih mulus dan kencang. Payudara itu berguncang seirama gerakan Rofi’ah. Melihat payudara yang begitu mulus itu telanjang, Ketiga pemburu itu makin liar dan berteriak meminta wanita alim itu membuka celana.

Rofi’ah dengan sesenggukan mulai memelorotkan celana dalamnyanya dan melemparkannya ke tanah, Sekarang ibu muda berjilbab itu sudah telanjang bulat di hadapan ketiga pemburu yang memelototinya dengan penuh nafsu, Rofi’ah meneruskan tariannya dengan berbagai gaya yang diingatnya. Ketiga pemburu itu paling suka saat Rofi’ah melakukan goyang ngebor ala Inul dan goyang patah-patah. Pantatnya yang montok dan mulus bergoyang-goyang secara erotis. Jilbab yang tersampir dipundaknya dan kaus kaki putih yang membungkus kaki sampai betisnya membuatnya semakin cantik.

Selama hampir satu jam Rofi’ah menghibur ketiga pemburu itu dengan tarian bugilnya, tubuhnya sampai basah karena keringat membuat tubuh yang putih mulus itu terlihat berkilat-kilat. Acara itu baru selesai setelah Pak Arman menyuruhnya berhenti.

“Hehehehe… Ternyata Mbak pintar juga narinya.. kami jadi terangsang lho..” kata Pak Arman sambil tersenyum keji.

“Sudah cukup Pak, saya sudah menuruti permintaan Bapak, sekarang lepasin kami..” pinta wanita alim yang bahenol itu sengan memelas sambil setengah mati berusaha menutupi payudara dan memeknya yang telanjang.

“Cukup..?” Pak Arman tertawa. “Hukuman kalian belum lagi dimulai.”

Rofi’ah merasa mual mendengar ucapan itu, kalau yang tadi belum apa-apa, Rofi’ah ngeri membayangkan apa yang akan mereka minta berikutnya.

“Hukuman selanjutnya, sekarang Non berdiri sambil ngangkang, lalu angkat tangan Non ke belakang kepala!” Pak Arman memerintah dengan jelas.

Rofi’ah tersedu sesaat, lalu wanita alim itu mulai membuka kakinya lebar-lebar membuat bagian selangkangannya terkuak, tangannya diangkat dan jari-jarinya ditumpukan di belakang kepalanya membuat payudaranya yang putih dan kenyal sedikit terangkat. pose tersebut membuat bagian selangkangannya terbuka lebar sehingga memperlihatkan memeknya dengan jelas. Memek wanita bahenol berjilbab lebar itu terlihat terawat dengan baik, ditumbuhi rambut-rambut halus dan rapi, Rofi’ah selalu merawat bagian genitalnya dengan sangat cermat, demi menyenangkan suaminya. Sementara dengan tangan di belakang kepala membuat payudaranya makin membusung dan mencuat menggemaskan.

“Nah, sekarang boleh nggak kami meraba tubuhnya Mbak?” tanya Pak Arman..

Rofi’ah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan itu. Wanita alim itu mengangguk sambil menangis.

“Sekarang kita mulai ya..” kata Pak Arman, Rofi’ah hanya mengangguk, dia merasakan sentuhan tangan Pak Arman bergerilya di wajah putih mulus wanita cantik alim itu.

“Uhh.. wajahmu mulus sekali Non..” Pak Arman lalu mencium pipi Rofi’ah, antara geli dan jijik Rofi’ah memajamkan mata. Lalu Pak Arman mulai menelusuri bibir Rofi’ah yang merah dan mulai melumatnya dengan gerakan lembut. Pak Arman terus berusaha mendesakkan bibirnya mengulum bibir Rofi’ah, lidahnya mencoba menerobos masuk ke mulut Rofi’ah, sementara tangannya juga bergerilya meraba-raba dan meremas payudara Rofi’ah. Wanita alim itu menggelinjang mendapat perlakuan itu. Sambil bibirnya terus mengulum bibir Rofi’ah, tangan Pak Arman juga memelintir-melintir puting payudara Rofi’ah dengan gerakan kasar. Rofi’ah meringis kesakitan tapi perlahan perlakuan Pak Arman justru menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya, tubuh Rofi’ah menegang saat sensasi itu melandanya, tanpa sadar gadis alim itu mulai mendesah. Suaminya tidak pernah memperlakukannya seperti itu.

“Ayo, kalian juga boleh ikut..?” Pak Arman memanggil kawan-kawannya. Rofi’ah makin menderita mendengar ucapan itu, kali ini tiga orang yang mengerubutinya, mereka meraba-raba ke sekujur tubuh montok wanita berjilbab itu. Pak Man yang berangasan bahkan meremas-remas payudara kiri Rofi’ah dengan kasar, sementara sebelah tangannya meraba dan meremas pantat Rofi’ah yang sekal.

“Uohh.., Pentilnya dahsyat, pantatnya juga nih.. kayaknya enak nih kalo ditidurin,” kata Pak Man. Sementara Pak Johan sedang asyik berkutat dengan payudara Rofi’ah sebelah kanan. Dia menjilati dan menyentil puting payudara putih bersih wanita berjilbab itu dengan lidahnya.

“Ohh.. baru tahu ?” Pak Arman tertawa di tengah usahanya menjilati payudara Rofi’ah. Rofi’ah hanya bisa merintih pasrah. Apalagi saat Pak Arman mulai menggerayangi memeknya.

“Ohh.. tempiknya bagus banget nih Pak Man..” Pak Arman menggesek-gesekkan jarinya di bibir memek Rofi’ah, sementara Pak Man dan Pak Johan kali ini sibuk menciumi dan menjilati payudara Rofi’ah sementara tangannya membelai-belai perut Rofi’ah yang licin. Wanita alim itu semakin menggelinjang dan terus mendesah tertahan.

“Ohh..” Rofi’ah menjerit kecil saat saat Pak Arman mencoba memasukkan jari-jarinya ke memek Rofi’ah.

“Jangan Tuan..” Rofi’ah merintih, tapi rintihan pasrah gadis alim itu ibarat perangsang bagi Pak Arman dan kawan-kawannya, dia makin liar menggesekkan jarinya ke selangkangan Rofi’ah bahkan dia juga meremas-remas gundukan memek Rofi’ah. Rofi’ah merintih. Tubuhnya mengejang mendapat perlakuan itu.

“Hei Pak Arman.. kayaknya Mbak ini sudah mulai terangsang nih..tuh lihat dia mulai merintih, keenakan kali ye..?” ujar Pak Johan diiringi tawa, Rofi’ah makin sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi memang dia tidak bisa mungkir kalau dirinya mulai terangsang oleh perlakuan mereka.

“Janganhh..ohh…” Rofi’ah mulai meracau tidak karuan saat Pak Arman mulai menjilati memeknya. Rofi’ah menjerit saat lidah Pak Arman bermain di klitorisnya. Lidah Pak Arman mencoba mendesak ke bagian dalam memek wanita berjilbab itu sambil sesekali jari-jarinya juga ikut mengocok memek itu. Sungguh ia mau diperlakukan seperti itu, karena bahkan suaminya sendiri tidak pernah memperlakukannya seperti itu.

“Ahkkhh.. ohh.. janganhh..” Rofi’ah menggeliat. Semantara Pak Man dan Pak Johan kali ini berdiri di belakang Rofi’ah sambil mendekap tubuhnya dan meremas-remas kedua payudara Rofi’ah dengan gerakan liar. Sesekali puting payudara gadis berjilbab itu dipilin-pilin dengan ujung jarinya seperti orang sedang mencari gelombang radio. Rofi’ah mengejang, sebuah sensasi aneh secara dahsyat mengusir akal sehatnya. Dia mendesah-desah dengan gerakan liar, hal ini membuat kedua penjahat itu terlihat makin bernafsu.

“Ayo terus..sebentar lagi dia nyampe..” Pak Man berteriak-teriak kegirangan seperti anak kecil sambil terus menerus meremas payudara Rofi’ah sementara Pak Arman masih menelusupkan wajahnya ke selangkangan wanita alim itu. Lidahnya terus menyapu bibir memek Rofi’ah dan sesekali menyentil klitorisnya. Wanita itu menjerit kecil setiap kali lidah Pak Arman menyentuh klitorisnya, semantara tangannya juga bermain meremasi pantat Rofi’ah. Tubuh Rofi’ah sudah basah oleh keringat, sekuat tenaga dia menahan desakan sensasi liar di dalam tubuhnya yang makin lama makin kuat sampai membuat wajahnya merah padam. Tapi Rofi’ah akhirnya menyerah, tubuhnya mengejang dahsyat dan tanpa sadar dia mendorongkan memeknya sendiri ke wajah Pak Arman dan menggerakkannya maju mundur dan bergerak liar menyentak-nyentak. Rofi’ah tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya menggeliat dan menegang.

“OOHHHKKHHHH…. AHHHH…” wanita berjilbab lebar itu mengerang kuat-kuat seperti mengejan. Wajahnya merah padam penuh aura birahi, Dan seketika itu pula “Crt… crt… crt…” cairan memeknya muncrat keluar. Tanpa sadar Rofi’ah mengalami orgasme untuk pertama kali, dan kemudian tubuhnya melemas lalu terpuruk, Pak Man dan Pak Johan menahan tubuh Rofi’ah supaya tidak jatuh. Pak Arman tertawa senang melihat bagaimana Rofi’ah mengalami orgasme dengan begitu dahsyat.

“Hehehehe…” Pak Arman tertawa seperti orang sinting. “Enak ya mbak..? galak juga kalau lagi orgasme..Gak ngira kalo cewek berjilbab besar kayak mbak bisa orgasme liar kayak gitu…” sindirnya. Rofi’ah hanya diam saja, tubuhnya masih lemas setelah mengalami orgasme yang begitu hebat, sekujur syaraf seksualnya seolah digetarkan dengan begitu kuat seperti dihimpit oleh truk raksasa membuat dorongan seksualnya entah bagaimana menggelegak hebat membuat wanita alim itu serasa ingin dientot. Namun ia berusaha mengusir pikiran itu.

“Nah.. sekarang hukuman ketiganya..” Pak Arman memberi isyarat pada Pak Johan. Pak Johan segera bergegas masuk ke dalam pondok dan keluar dengan mengusung sebuah kasur busa usang yang berbau lembab lalu menghamparkannya di tanah begitu saja.

“Nah.. Mbak sekarang tiduran di situ ya.. ” Pak Arman menunjuk ke arah kasur bau itu. Rofi’ah hanya mengangguk, didorong oleh gejolak seksualnya yang menggelora, wanita berjilbab yang biasanya pemalu itu merebahkan dirinya terlentang di atas kasur. Jilbab lebarnya sudah bahas penuh keringat.Rofi’ah refleks membuka kaki lebar-lebar, sehingga posisi Rofi’ah telentang di atas karpet dengan kaki mengangkang lebar. Ketiga pemburu itu terkagum-kagum melihat gadis alim yang sangat cantik, yang biasanya menjaga dirinya dengan jilbab dan jubah panjang, sekarang sudah terlentang pasrah, siap untuk disetubuhi.

Pak Arman kemudian membuka seluruh bajunya dan langsung menindih tubuh Rofi’ah sambil mengarahkan penisnya yang besar itu ke memek gadis berjilbab itu.

“Sudah siap kan Mbak..?” Pak Arman berkata lirih. Dia lalu mendorongkan penisnya ke dalam memek Rofi’ah.

“Aagghh…, ” wanita alim merintih ketika penis besar Pak Arman mulai memasuki memeknya. Pak Arman dengan kasar langsung memasukkan penisnya sampai mentok ke dalam memek Rofi’ah yang sudah basah itu. Karena besarnya diameter penis Pak Arman, memek Rofi’ah terlihat tertarik dan penuh dan menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Pak Arman. Meskipun Rofi’ah sudah tidak perawan lagi, tapi baru kali ini memeknya dimasuki penis sebesar penis Pak Arman. Gadis berjilbab itu meringis menahan sakit sambil mengigit bibirnya.

Pak Arman mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk memek Rofi’ah. Rofi’ah yang belum pernah memeknya dipompa oleh penis sebesar penis Pak Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. Wajahnya memperlihatkan kesakitan sekaligus birahi. Sungguh kini ia sudah tak mampu berpikir jernih, dan terhanyut oleh perkosaan yang ia alami.

“AAAHHH… .UUUUHHHH… … OOOHHHH” teriak Rofi’ah sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangganya meremas-remas kasur yang cukup tebal itu.

Pak Arman semakin cepat memompa memek Rofi’ah dengan penisnya. Kaki Rofi’ah terangkat ke atas memberikan kesempatan kepada Pak Arman untuk terus memompa memeknya dengan lebih cepat lagi.

“Aaahh… enak… terus…paaakk… ooh…maaf…kaaann…Rofiii….massssss Fariiiidd….ooohhh….enaaakkk….!!! .” Rofi’ah mulai meracau dengan mata tertutup dan tanggannya semakin keras meremas-remas kasur.

Setelah 20 menit disetubuhi Pak Arman, tiba-tiba badan montok ibu muda berjilbab yang sudah basah bersimbah peluh itu mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Pak Arman, tangannya memeluk erat leher Pak Arman.

“AAAAGGHHH… … .” erang Rofi’ah mencapai orgasme yang sangat tinggi.

Kemudian badan Rofi’ah melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Pak Arman, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Pak Arman jatuh ke kasur, memek wanita alim itu yang tersumpal rapat oleh penis Pak Arman terlihat mengeluarkan cairan sampai membasahi karpet. Setelah beberapa lama persetubuhan itu berlangsung. akhirnya si pemburu kasar itu pun menyemprotkan spermanya dengan sodokan yang keras ke dalam kemaluan Rofi’ah. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh memek Rofi’ah. Rembesannya keluar membasahi kasur itu. Di saat yang bersamaan, rupanya wanita alim itu pun kembali mengalami orgasme. Kali ini tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali. Sementara Pak Arman yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya. Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di memek wanita berjilbab lebar itu. Lalu diciuminya seluruh wajah Rofi’ah. dikulumnya dalam-dalam bibir wanita itu. Rofi’ah yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya. Dia mambiarkan bibirnya dilumat oleah Pak Arman dengan kasar.

Setalah menuntaskan segala kepuasannya, Pak Arman berdiri meninggalkan tubuh Rofi’ah yang lemas telanjang di atas kasur. Tubuh putih itu sekarang berkilau basah oleh keringat, pada memeknya terlihat mengalir cairan sperma kental berwarna putih susu.

“Ohhhh..” Pak Arman mengejang penuh kepuasan. Baru kali ini dia merasakan nikmatnya menyetubuhi seorang wanita berjilbab yang sangat cantik. Berbeda sekali dengan pelacur-pelacur yang pernah dipakainya selama ini.

Rofi’ah hanya bisa menangis meratapi nasibnya diperkosa oleh Pak Arman, tapi dalam hatinya sebetulnya dia menikmati saat dirinya disetubuhi oleh Pak Arman. Rasa yang sangat berbeda dari yang pernah didapatnya dari Farid, suaminya, bahkan Rofi’ah merasa Farid tidak ada apa-apanya dibandingkan Pak Arman. Karena itu ketika Pak Man mendekatinya, wanita alim itu hanya diam saja, menunggu persetubuhannya yang kedua.

“Nah.. sekarang giliran Gue..” kata Pak Man tenang sambil melepas pakaiannya satu-persatu, dia menyeringai kegirangan mirip anak kecil yang diberi permen. “kita ganti gaya ya mbak…” kata Pak Man kalem. Mungkin karena saking terangsangnya, Rofi’ah menurut saja apa yang dimintanya, Pak Man membalikkan tubuh wanita berjilbab itu dengan pantat agak ditunggingkan, tangan dan lutut Rofi’ah bertumpu di kasur dengan gaya nungging. Pak Man membelai pantat Rofi’ah yang mulus telanjang itu sambil sesekali menamparnya ringan dan mencubitinya.

“Buseet.. pantatnya, guede, putih, mulus lagi…” kata Pak Man kegirangan. Lalu penis Pak Man mulai memasuki memek Rofi’ah dari belakang.

“Oohh.. gile..” Pak Man mengejang ketika penisnya amblas sepenuhnya di dalam memek Rofi’ah. “Tempiknya Mbak masih seret aja..gak pernah dipake ama suaminya ya mbak..” Pak Man berujar. Rofi’ah hanya diam saja sambil memejamkan mata kaerna kesakitan sekaligus merasakan nikmat pada dinding memeknya sebelah dalam.Dalam posisi demikian, Pak Man memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan pada pantat wanita alim berjilbab itu. Rofi’ah serasa melayang, sekonyong-konyong dia tidak merasa diperkosa karena turut menikmatinya. Pak Man lalu mencengkeram kepala Rofi’ah yang masih terbungkus jilbab merah muda, dan ditariknya hingga wajahnya terangkat memperlihatkan ekspresi kesakitan tapi penuh kenikmatan setiap kali Pak Man menggenjotkan penisnya.

“Ahhh… ahhhh…. oohhhhh… oohhhh…” Rofi’ah mengerang setiap kali Pak Man menyodokkan penisnya, di lain pihak, Pak Arman dan Pak Johan ikut memberi semangat setiap kali Pak Man menyodok memek gadis berjilbab lebar yang sudah sangat terangsang itu.

“Ayoo.. terusss.. teruss Mbak … yeahh… oohhh… baguss..” Pak Johan memberi semangat pada Rofi’ah. Rofi’ah yang sudah dikuasai nafsu birahi mengerang-erang kuat setiap kali sentakan penis Pak Man menyodok bagian dalam memeknya.

Menit demi menit berlalu, Pak Man masih bersemangat menggenjot Rofi’ah. Sementara Rofi’ah sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Pak Man. Kemudian Pak Man mengganti gaya lagi, kali ini ditelentangkannya lagi tubuh Rofi’ah, lalu diangkatnya kedua paha sekal wanita alim itu dan disampirkannya ke pundaknya, lalu kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Rofi’ah, dan menariknya kuat-kuat, kemudian Pak Man kembali mendesakkan penisnya ke memek Rofi’ah dan menggenjotnya. Wanita alim itu menggeliat antara sakit bercampur nikmat, Di ambang klimaks, tanpa sadar saat Pak Man melepaskan pegangannya dan kembali menindih tubuhnya, Rofi’ah memeluk Pak Man dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai gadis berjilbab itu mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan Pak Man. Tapi Pak Man belum terpuaskan, maka setelah jeda beberapa menit dia kembali menggerakkan penisnya maju mundur di dalam memek Rofi’ah.

“Uugghh…oohh !” desah Rofi’ah dengan mencengkeram kasur dengan kuat saat penis itu kembali melesak ke dalam memeknya, cairan yang sudah membanjir dari memek Rofi’ah menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam. Suara desahan pasrah wanita alim itu membuat Pak Man semakin bernafsu sehingga meraih payudara Rofi’ah dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh mulus itu.

Limabelas menit lamanya Pak Man menyetubuhinya sampai akhirnya Pak Man menggeram dan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya.

“Crtt…crt…crt….,” sperma Pak Man menyembur membasahi rahim Rofi’ah dengan sangat deras. Pak Man merasakan sekujur syaraf seksualnya meledak saat itu, bagai seekor binatang ganas yang keluar mengoyak tubuhnya dari dalam. Tubuh Pak Man menegang selama beberapa detik merasakan kenikmatan yang diperolehnya sebelum akhirnya melemas kembali dan tergolek mendekap tubuh mulus Rofi’ah. Lalu setelah puas dia segera bangkit. Dibiarkannya wanita alim yang bahenol itu terkapar di ranjang itu, wajahnya tampak sedih dan basah oleh keringat, cairan sperma yang sangat banyak mengalir keluar dari memeknya. Jilbab yang ia pakai sudah kusut dan basah kuyup oleh keringat.

Pak Johan yang mendapat giliran terakhir maju sambil bersungut-sungut, dia yang sedari tadi sudah telanjang hanya bisa mengocok penisnya sendiri sambil memelototi adegan persetubuhan kedua temannya dengan wanita berjilbab yang ternyata sangat cantik dan seksi itu.

“Jangan tiduran saja di situ Mbak cantik..” Pak Johan lalu menarik tangan Rofi’ah dengan kasar membuat Rofi’ah tersentak ke depan. Diangkatnya wajah Rofi’ah yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil itu dengan ganas.

Mata gadis itu membelalak menerima serangan kilat itu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Pak Johan, namun sia-sia karena Pak Johan memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Ciuman Pak Johan makin merambat turun ke pangkal leher jenjangnya yang tidak tertutup jilbab, lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi payudaranya. Dari leher mulut Pak Johan turun lagi ke dadanya, dia membungkuk agar bisa menyusu dari payudara berukuran 32B yang montok itu. Dijilatinya dengan liar hingga permukaan payudara itu basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti putting susu wanta berjilbab itu memberikan sensasi tersendiri bagi Rofi’ah. Tangan satunya turun meraba-raba kemaluannya dan memainkan jarinya disitu menyebabkan daerah itu makin berlendir.

“Pak…Pak……oohh…. aaah !” desahnya antara menolak dan menerima. Pak Johan diam saja, lalu kembali dilumatnya bibir Rofi’ah, lalu pelan-pelan Pak Johan merebahkan tubuh Rofi’ah kembali ke kasur dan menekan penisnya ke liang memek Rofi’ah.

“Sshhh…sakit, aawhhh…!!” rintih Rofi’ah ketika penis Pak Johan yang besar itu menerobos memeknya. Sementara Pak Johan terus berusaha memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh.

“Ough…..aduhhhh… Pakkkkk !!!! pelannnn…..!!!!!! ahhh……… auggghhhh….” jerit wanita berjilbab itu sambil mendorong tubuh Pak Johan menjauh. Namun Pak Johan tetap tidak peduli. Iapun terus mendorong penisnya masuk perlahan. Gesekan yang ditimbulkan batang penis dan dinding rahim Rofi’ah membuat Rofi’ah merasakan kesakitan di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Pak Johan yang terbilang agak berat itu. Mengetahui kondisi dan tidak ingin terlalu membuat ibu muda alim itu tersiksa Pak Johanpun mendorongnya dengan kekuatan penuh. Hingga akhirnya amblas semuanya. Kedua tangannya memegang pinggul Rofi’ah dan agar tidak terlepas dari liang itu.

Pak Johan pun menarik penisnya yang masih tertancap di memek yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Rofi’ah mengigit bibir bawahnya seolah rasa perih mulai hilang diganti rasa nikmat karena gesekan kulit daerah organ vital mereka berdua. Goyangan maju mundur Pak Johan terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu. Beberapa menit berlalu sebuah erangan panjang keluar dari mulut Rofi’ah.

“Ooooughhhhhhh….. ough…. ooooohhhhhhhhh….. Paaak……” Tubuhnya mengejang, kakinyapun menekan pinggul Pak Johan. Cengkeraman kukunya di lengan Pak Johan menandakan ia telah orgasme untuk kesekian kalinya, setelah dua kali diperkosa, tiada lagi daya dalam diri Rofi’ah untuk mengimbangi Pak Johan. Melihat kejadian itu Pak Johanpun lalu mempercepat gerakannya, Pak Johan meningkatkan tempo goyangannya, penis yang besar dan berurat itu menggesek dan menekan klitoris Rofi’ah ke dalam setiap kali menghujam. Kedua payudaranya yang membusung tegak itu ikut berguncang hebat seirama guncangan badannya. Pak Johan meraih yang sebelah kanan dan meremasnya dengan gemas. Gairah wanita alim berjilbab itu mulai bangkit lagi, dia merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, yang tidak didapatnya saat bercinta dengan suaminya, tanpa disadari wanita alim itu juga ikut menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Pak Johan. Tapi Belum lagi sempat Rofi’ah menarik napas, Pak Johan dengan kasar mengangkat dan membalikan tubuh Rofi’ah, Pak Johan membuat Rofi’ah sekarang dalam posisi menungging. Pantat Rofi’ah terangkat tinggi, sedangkan kepalanya tertunduk ke kasur dan badannya bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Tiba-tiba Pak Johan dengan kasar dan dalam tempo yang cepat mulai kembali memompa memek becek wanita alim itu.

“Aaaaghh… egghhhh… ..sakiiit… .” teriak Rofi’ah mendapat perlakuan kasar dari Pak Johan.

Mendengar itu Pak Johan malah semakin bersemangat dan semakin keras menghajar memek Rofi’ah dengan penisnya dari belakang. Tangan Pak Johan memegang pinggang Rofi’ah dan mulai menarik maju mundur badan Rofi’ah, sehingga pompaan penisnya dalam memek Rofi’ah semakin keras dan cepat. Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur. Badan Rofi’ah maju mundur mengikuti pompaan keras penis Pak Johan. Setiap kali Pak Johan memasukkan penisnya sampai mentok ke memek Rofi’ah, terdengar teriakan Rofi’ah.

“AAHGHH… ..AAGHHHH… .AGHHH… ” teriak Rofi’ah berulang-ulang. Semakin cepat lagi Pak Johan memompa penisnya semakin keras erangan Rofi’ah. Kemudian Pak Johan merubah posisinya yang tadinya berlutut menjadi berjongkok di belakang Rofi’ah. Posisi itu membuat Pak Johan dapat makin cepat lagi memompa memek Rofi’ah dari belakang dan membuat penisnya dapat makin keras menekan memek Rofi’ah, meskipun sebenarnya penis yang besar itu sudah mentok di dalam memek Rofi’ah. Pak Johan tidak mengurangi kecepatan pompaan penisnya dan tetap menjambak rambut Rofi’ah.

“Aaaaahh… uuuuhh… … ..aaaaahhhh… .eeeeehhhgggh….” teriak Rofi’ah makin keras menggema di tengah hutan itu. Penis Pak Johan yang besar terlihat makin cepat keluar masuk memek Rofi’ah yang masih sempit itu.

Rofi’ah dalam posisi demikian tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti irama permainan Pak Johan. Mengikuti apa maunya Pak Johan, beberapa menit bermain cepat, kemudian melambat dan menjadi cepat lagi.

Wajah Rofi’ah yang terdongak menunjukkan betapa Rofi’ah sebenarnya menikmati perlakuan kasar Pak Johan. Mata Rofi’ah merem melek dan mulutnya terbuka lebar menikmati serbuan penis Pak Johan dari belakang. Tangan Rofi’ah makin keras meremas-remas kasur, payudaranya yang padat bergantung dan bergoyang keras ke depan dan ke belakang, memeknya sudah sangat basah, cairan memeknya yang bercampur sperma bukan saja meleleh banyak di kedua paha bagian dalamnya tapi sedikit-sedikit mulai menetes ke kasur yang dijadikan alas. Ternyata wanita berjilbab itu sudah sangat menikmati perlakuan kasar dari para pemerkosanya, dan orgasme berkali-kali.

Setengah jam lamanya Pak Johan menyetubuhi Rofi’ah. Dan diperlakukan demikian, sudah tidak terhitung berapa kali wanita alim itu mencapai orgasme. Cairan kewanitaannya semakin deras membasahi kedua paha dalamnya, kakinya sudah mulai bergetar karena terlalu letih dan orgasme yang berulang-ulang. Sementara Pak Johan masih saja terus menggenjotkan penisnya seolah tidak akan berhenti, sampai akhirnya ketika Rofi’ah orgasme lagi, Pak Johan mengejang kuat-kuat. Sambil menyentakkan penisnya ke dalam memek Rofi’ah kuat-kuat, Pak Johan melenguh keras.

“AAAAHHHHKKKHHHH…!” Pak Johan merasakan kenikmatan yang luar biasa menghantam sekujur tubuhnya, dan seketika itu pula spermanya menyembur dengan sangat deras di dalam rahim Rofi’ah. Seketika didorongnya tubuh Rofi’ah sehingga tertelungkup di kasur, sementara dia sendiri terkapar terengah-engah merasakan kenikmatan yang luar biasa menyetubuhi wanita berjilbab besar yang ternyata begitu cantik dan montok seperti Rofi’ah.

Dan selama sehari semalam, ketiga orang pemburu itu memperlakukan wanita montok berjilbab itu tidak lebih dari budak nafsu yang harus siap melayani nafsu seksual mereka bertiga. Selama sehari semalam mereka tidak mengijinkan Rofi’ah untuk berpakaian, kecuali jilbab merah muda dan kaus kaki putihnya. Mereka juga memaksa Rofi’ah untuk menjadi pelayan di pondokan mereka, tentunya dengan tetap telanjang bulat. Dan semalaman, mereka bertiga memaksa Rofi’ah untuk melakukan hubungan seksual dengan berbagai gaya dan cara yang bisa mereka praktekkan pada tubuh Rofi’ah. Mereka baru menyudahi pesta seksual tersebut sekitar jam 4 pagi setalah Rofi’ah benar-benar tidak kuasa lagi bergerak. Mereka berempat kemudian tertidur di lantai beralas karpet usang tanpa busana. Pak Johan tidur sambil menggenggam payudara Rofi’ah, Pak Arman dan Pak Man tidur di sebelahnya.

Rofi’ah kembali kerumahnya dengan tertatih, namun tidak menceritakan apa2 pada siapa saja. Ternyata ia memang diam-diam menikmati perkosaan yang menimpanya, sehingga saat suaminya keluar desa dan ia kembali diperkosa oleh ketiga orang pemburu itu dirumahnya, wanita alim itu hanya pasrah. Bahkan ia kembali orgasme berkali2.