Guruku cantik.. Guruku sayang..

pantat Bu Rofikah bergerak seperti membalas gerakanku…. bergoyang, menarik dan mendorong… rintihan nikmat wanita montok berjilbab itupun semakin jelas dan keras… tampaknya Bu Rofikah kembali terhanyut oleh kenikmatan persetubuhan ini..

Nama lengkapku Deni Boy Wibisono, sering dipanggil  ” Boy ” oleh rekan2 disekolahku. Sejak aku pernah mencoba memek eorang gadis berjilbab di sekolahku, aku jadi ketagihan memek gadis berjilbab. Tubuh mereka yang selalu ditutup dengan jilbab besar dan baju seragam yang longgar menambah rasa sensasi penasaran dan semakin menggelorakan nafsuku. Apalagi menikmati saat rontaan gadis itu berubah menjadi gelinjang kenikmatan saat aku ebrhasil menyentuh titik birahinya, dan membuat mereka malu setengah mati. Dan juga, biasanya mereka tidak akan berani membeberkan perkosaan itu kepada siapapun. Selain karena malu setengah mati, namun mungkin juga karena mereka ternyata menikmati perkosaan itu. Terbukti gadis berjilbab yang bernama Nadiah, yang saat pertama kali kuperkosa mengalami berkali2 orgasme. tErnyata ia tidak pernah mengatakannya pada siapapun, dan saat kuperkosa untuk kedua, ketiga dan keempat kalinya, pemberontakannya hanya lah agar dia tidak dianggap menikmatinya, padahal kenyataannya dia kembali orgasme berkali2. Bahkan saat terakhir kuperkosa, ia menggerakkan pantatnya tanpa kusuruh. Ternyata gadis berjilbab lebar mempunyai garah seks yang binal!!

Akhirnya, setelah bosan dengan Nadiah, aku punya sasaran baru, yaitu guru Matematikaku yang selalu memakai jilbab yang bernama Bu Rofikah. usianya 26 tahun,belum kawin, sesuai dengan namanya, wajah cantik mirip Prita Laura, kulitnya putih bersih dan bentuk tubuhnya sangat montok dengan buah dadanya terlihat sangat besar dibalik baju seragam guru dan jilbab lebar yang ia pakai, dan  teman wanita sekelasku yang bernama Jihan. Gadis berjilbab ini sangat cantik, kulitnya putih sekali tapi yang lebih penting bagiku adalah ukuran buah dadanya paling besar diantara teman wanita sekelasku. Setiap hari aku memutar otak, mencari akal bagaimana caranya supaya aku bisa mencumbu salah satu dari mereka sampai puas.

Suatu hari, aku dipanggil ke ruang oleh Bu Rofikah dan aku dimarahi karena nilai ulangan Matematikaku hancur, padahal aku sengaja tidak belajar supaya diperhatikan sama Bu Rofikah. Saat itu aku beralasan kurang mengerti ketika diajari di kelas dan langsung aku minta les tambahan sama Bu Rofikah. Pucuk dicinta ulampun tiba, ibu guruku yang montok berjilbab ini langsung setuju dan kamipun berunding mengenai tempat les, di sekolah atau di rumah. ” Bagaimana kalau di rumah Bu Rofikah saja?” usulku. Dia langsung setuju, saat itu pula baru aku tahu kalau Bu Rofikah tinggal sendirian di rumah kontrakan dan les dimulai sore hari itu juga setelah pulang sekolah. Dengan hati berbunga-bunga akupun kembali ke kelas. Tiba di rumah aku langsung mempersiapkan diri, pokoknya badanku harus bersih dan wangi, kupakai celana dalam yang longgar dan celana Levi’s 501 ku yang tidak pake retsleting tanpa pake sabuk, dan tak lupa kubawa sebuah gunting kecil.

Sorenya kuberangkat sekitar pukul 3. Kurang lebih setengah 4 aku sudah berdiri didepan pintu  rumah Bu Rofikah dan belum sempat kuketuk pintunya guruku sudah membukakan pintu.

“Sore Bu,” sapaku berbasa-basi. Setelah membalas salamku langsung dia menyuruhku masuk untuk menunggu di ruang tamunya karena katanya dia mau kebelakang dulu. Tampaknya Bu Rofikah baru datang juga karena dia masih mengenakan seragam guru yang tadi siang, lengkap dengan jilbab putih panjang. Mungkin rapat dulu pikirku. Ruang tamunya cukup besar, tapi bersih dan tertata rapi juga kulihat beberapa photo keluarga. Terlihat semua wanita di keluarganya memakai jilbab lebar, dan nampak semuanya cantik. Wah, aku harus coba semua nh, pikirku ngeres. Sambil duduk di kursi tamu yang terbalut kulit dan empuk, aku menyiapkan buku Matematika untuk bahan les.

Selang beberapa menit kemudian Bu Rofikah datang lagi dengan segelas air es ditangan kanannya.        ” Boy .. maaf yach…Ibu nggak punya apa-apa. Pembantu lagi mudik .. jadi nggak ada yang masak. Barusan aja Ibu dari rumah Bu Yanti dulu.. yang ngajar Akuntansi di A3..  itu yang pindahan dari Bandung.  Kamu tahu khan?  Kamu siapin aja dulu bukunya..sambil baca-baca, Ibu mau mandi dulu sebentar.. nggak enak.. gerah nih!” kata ibu guru cantik alim itu tanpa memberiku kesempatan ‘tuk membalas ucapannya.

Memang guruku ini nggak kaku kalau ngajar di kelas. Bahkan terkadang kalau ngomong kayaknya nggak terlalu ada jarak dengan murid. “Ma kasih Bu jadi mengerepotin .. “, jawabku sambil berusaha melirik sedikit buah dadanya yang montok di balik kemeja dalam berwarna putih satin berlengan panjang dan jilbab kaus saat guruku membungkuk meletakan gelas di atas meja. Rupanya blazer seragam warna hijau dan jilbab kain guruku yang montok ini sudah dilepasnya bahkan mungkin rencananya mau ganti baju dulu .. sebab kemeja putihnya sudah dikeluarkan dari balik rok. “Nggak apa-apa kok..”, balasnya sambil berlalu keruang dalam.

Dengan sengaja mataku mengikuti langkah guruku yang berjilbab montok itu bertelanjang kaki ke ruang dalam. Kupandangi gerak pinggulnya saat berjalan..samar-samar terlihat cetakan celana dalamnya.. hingga lenyap dibalik tembok pemisah ruangan. Tak lama kemudian terdengar gemericik suara siraman air. Oh Bu Rofikah ..  pikirku menerawang membayangkan guruku yang putih dan berdada besar ini mandi telanjang tanpa benang sehelaipun.

Dalam benakku terbayang adegan erotis dengan guru berjilbabku. Tanpa bisa ditahan gairahku meningkat .. organ kelelakianku menegang. Ohh …aku menghayalkan guruku sendiri.. IBu Rofikah. Sempat timbul pikiran kotorku untuk mencoba mengintipnya dari lubang kunci .. sebab aku ingat omongan guruku kalau pembantunya lagi mudik jadi nggak bakal ketahuan.

Tanpa terasa menunggu, Bu Rofikah sudah muncul di hadapanku dengan memakai baju terusan warna putih yang tipis, yang menjutai sampai kemata kakinya, dan jilbab putih dari bahan kaus yang lembut. sungguh dimataku Bu Rofikah sangat menggairahkan, dengan BH hitam yang jelas membayang tanpa bisa menyembunyikan buah dadanya yang tegak membusung.

” Boy .. koq kamu bengong.. bukannya baca buku?” tanyanya sambil berjalan menghampiriku. Cahaya matahari dari pintu belakang memperlihatkan lekukan tubuh indahnya yang terbayang samar dibalik baju terusan putihnya. Entah.. aku sendiri bingung antara terpesona atau tergiur. Yang jelas dimataku Bu Rofikah sungguh seksi menggairahkan. “Nggak Bu..,” jawabku sedikit gugup.

” Ayo Boy .. mulai… kamu bawa buku Matematikanya-kan?’” kata guruku yang muslimah berjilbab namun montok ini sambil duduk di sofa panjang tepat di hadapanku. lalu diambilnya kertas kosong dibawah meja tamu.

Sambil membawa kertas kosong untuk coretan .. guruku yang sintal dan berjilbab ini duduk di sebelahkuku, disofa panjang, tak lama kemudian dia mulai serius menerangkan rumus integral dengan pensil ditangannya, sebaliknya gairahku membawa pikiran dan khayal-ku untuk menikmati kehangatan, keseksian, kesintalan tubuhnya, yang tersembunyikan jilbab panjang kaus dan baju panjangnya yang menggairahkan. Aku hanya mengomentari dan berkata,” Ya …ya .. ngerti  Bu…!” dan tanpa disadarinya mataku dengan buas memandangi wajah molek sambil membayangkan dapat menjilati dan melahap gumpalan terbelah, payudara putih segar yang terlihat samar dibalik baju terusan putih tipisnya. Jelas perasaanku tak karuan … jantungku berdegup kencang .. tercium aroma parfum yang lembut  dihidungku .. makin membuat dudukku nggak nyaman.. dan aku tahu apa sebabnya …  organ kelakianku yang terus menerus tegang membuat pikiran gelap mulai menggodaku.

Hingga akhirnya Bu Rofikah .. memberiku soal latihan untuk dikerjakan,”Coba Boy .. kamu buat ini .. soal yang tadi siang untuk PR . Ibu pingin tahu .. kamu udah ngerti belum?” kemudian guruku yang montok dan berjilbab itu berdiri sambil ngambil sebuah majalah dari meja sudut kemudian duduk di kursi sebelah kanan depanku. Sekilas kulihat dia membacanya sambil duduk miring menghadap ke arah jalan. Sambil mencoba menyelesaikan soal itu, kuperhatikan guruku membaca sebuah majalah U***. Kemudian kelihatan guruku yang sintal ini merubah posisi duduknya dengan sedikit membelakangiku sambil menumpangkan kaki kanan dengan badan sedikit bersandar sambil memeluk bantal kursi.

Langsung aku menghentikan kegiatanku kupandangi guruku yang cantik berjilbab ini dari belakang… tampak benar bulat pinggulnya yang cukup besar ..oh sungguh menggoda pikirku. Terlihat pula cetakan celana dalam hitamnya yang jelas membekas di baju terusan tipisnya … pantatnya yang bahenol nampak mengundang diriku untuk menyodok-nyodoknya dari belakang. Sungguh aku ingin membuatnya mengerang-erang keenakan. Selang beberapa saat aku terpana .. tiba-tiba Bu Rofikah menengok ke arahku…. lalu memperbaiki posisi duduknya.

Sepertinya Bu Rofikah sadar sedang diperhatikan, dia membereskan jilbabnya lalu dia kembali duduk di sampingku. Jarak tubuhnya dengan tubuhku hanya sejengkal saja. Aduuuhhh… harum sekali wangi tubuhnya, tak tahan aku untuk memeluknya. Tapi aku takuuttt….. dan malu. Setelah kami berdiskusi tentang Matematika hampir tiga jam lebih, obrolan mulai melebar, kami semakin akrab. Sesekali kulit kami bersentuhan…. terasa halus sekali… semakin membuatku ingin merambahi seluruh bagian tubuh yang dimilikinya yang ia sembunyikan dengan baju panjang dan jilbabnya untuk mereguk kenikmatan yang ada di dalamnya. Sungguh baju panjang dan jilbabnya justru menambah gejolak birahiku.

Entah setan mana yang menggodaku hingga aku semakin berani. Tanpa basa basi, tubuh Bu Rofikah langsung kupeluk dengan kuat, secepat kilat bibirku menempel di bibirnya yang ranum…. guru alimku itu kaget sekali…. matanya melotot…. ” Mmmphh Boy, apa apaan kamu… ”  katanya sambil menggelengkan kepalanya yang terbalut jilbab untuk menghindari bibirku dan tangannya mendorong bahuku. Kujawab dengan mempererat pelukan hingga tangannya tak bisa bergerak… kuciumi bibirnya dengan penuh nafsu…. kusedot sedot dan kugigit bibir bagian bawah… tapi mulut Bu Rofikah tertutup rapat…. Mmmmpphh….mmpphh… kepalanya menggeleng-geleng dan bergerak mundur berusaha untuk melepas ciumanku…. tapi bibirku terus menempel di bibirnya…. kucoba untuk merangsangnya lewat bibir.  Jilbab putihnya mulai berantakan. Terasa kontolku semakin perkasa saat tak sengaja menggesek tubuhnya yang terbalut baju terusan tipis halus.

Kepalanya terdorong hingga ke pojok sofa hingga tak bisa bergerak lagi… seluruh tubuhku bergerak secara reflek menindih tubuhnya… selangkanganku tepat menempel di selangkangannya… menggesek gesek memeknya yang masih tertutupi celana dalam dan baju terusan, badannya menggelinjang-gelinjang…. kakinya terus bergerak-gerak…. menendang-nendang…. tangannya mendorong dadaku dengan kuat, berusaha melepaskan diri dari tubuhku yang menindihnya, tapi aku tetap memeluknya dengan kuat…. hingga kurasakan gerakannya mulai berkurang… dan melemah….. sorot matanya berubah sendu…. dan berkaca-kaca…… guruku yang berjilbab lebar ini mulai hendak menangis…

Mulutku terus menutupi mulut wanita berjilbab ini… bibirnya kukulum sambil kusedot dan kugigiti bibir bawahnya… kumainkan lidahku untuk membuka mulutnya… kucoba untuk merangsangnya… selangkangannya kutekan dan kugesek-gesek dengan selangkanganku… akhirnya usahaku membuahkan hasil.. mulut wanita alim yang bahenol ini mulai terbuka… nafasnya mulai memburu…. bibirnya bergerak membalas permainan bibirku… aduuuhh enakknyaaa… kamipun berciuman dengan normal, tanpa ada paksaan… ternyata Bu Rofikah, guruku yang cantik,s emok dan selalu berjilbab ini sangat ahli dalam berciuman… aku tidak menyangka kalau wanita berjilbab lebar seperti dia pandai berciuman. lidahnya dan lidahku saling berpilin dan menarik… saling menyedot… enak sekali rasanya… pelukanku lepas dengan sendirinya dan tanganku mulai membuka kancing baju terusannya, lalu menyelusup ke baliknya dan mulai menggerayangi perutnya.. ketika buah dadanya kuraba-raba, Bu Rofikah mendesah, ” Boy, jangan Nak.. oohh… ouuughhh….. oohh…. aahh… ssstt… aahh… “.

Sikap wanita alim yang sintal ini seperti ingin menolak tapi desahannya menunjukkan dia merasakan nikmat… rupanya tubuhnya memang tidak bisa dibohongi. Wanita berjilbab lebar ini mulai merasakan kenikmatan terlarang, yang seharusnya tidak ia rasakan. aku jadi lebih agresif… tubuhku bergeser… mulutku berpindah sasaran… kulilitkan ujung jilbab panjangnya kesekeliling lehernya, sehingga perutnya terihat jelas. kuciumi pangkal leherputihnya … kujilat-jilat… tanganku semakin rajin mengelus… meraba… terdengar desahan lirih… aaaaahhhh… aaaahhh…. ooohhh…. kedua tangan wanita semok berjilbab ini menjambak rambutku, kubuka semua kancing bajunya sehingga buah dada besar wanita alim ini terlihat jelas, tinggal tertutup oleh BH hitamnya… dan tubuh Bu Rofikah semakin terbuka… tanganku bergerak ke balik punggungnya… kubuka kaitan BH-nya… ketika kubuka penutup buah dadanya, mendadak kedua tangan Bu Rofikah menepis tanganku dan menutupi dua gundukan yang menjulang dengan menyilangkan tangannya dan menurunkan kaosnya, sambil berkata, ” Cukup, jangan diteruskan lagi… Ingat, kamu adalah muridku ! Jangan kurang ajar !! “, mata wanita berjilbab lebar itu memandang tajam ke mataku sambil mendorong dadaku dengan kasar.

Aku kaget dan terdiam sejenak, ” Wah, bahaya nih, tapi kepalang basah “, pikirku dan nafsuku sudah di ubun-ubun… kontolku makin tegang dan berdenyut-denyut… aku benar-benar sudah nekat. Kugeser kembali tubuhku menindihi tubuhnya yang masih terbungkus baju panjang dan jilbab yang sudah berantakan… kupegang kepalanya yang masih terbungkus jilbab dengan kuat… kuciumi bibirnya dengan lebih bernafsu… kedua tangan Bu Rofikah berusaha menahan tindihanku dengan mendorong dadaku… perlawanan wanita alim itu membuatku semakin bernafsu… pangkal lehernya kutelusuri dengan lidahku…  bagian belakang kupingnya kuciumi dibalik jilbab tipisnya… kujilati…  kugigit ujung kupingnya, sampai jilbab putih tipisnya basah oleh air liurku. Terasa wanita berjilbab itu menggelinjang dan kembali mendesah tertahan.

Tubuh Bu Rofikah semakin menggelinjang-gelinjang… mata wanita alim itu merem sambil menggigit bibirnya sendiri… mulutnya berdesah tertahan, ” Boy… aahhh…. ooohhh…. Booy… aaahhhh… mmmm…. su..su..dah… ja…jangan.. diteruskan…aahh… De..de..niii…Booy… su..sudah…a..aa…aa..hhh… suu..dah..”

Desahan itu membuatku tambah lupa diri, tangan kananku kembali menyusup kedalam baju panjangnya,  langsung kuremas buah dada Bu Rofikah yang sebelah kiri… waahhh… ternyata buah dadanya benar-benar keras dan kenyal… BH-nya kutarik lepas… tampaklah sepasang buah dada putih bersih dengan putingnya yang kecil berwarna agak kecoklatan… aku takjub dengan keindahan ini. Ternyata benar, guruku yang alim ini mempunyai bah dada yang sangat putih dan menggairahkan. kusambut kedua gundukan daging itu dengan remasan dan mulutku. Kujilat… kuciumi…dan kugigit sambil kusedot sedot puting yang ranum itu… desahan Bu Rofikah terdengar semakin lirih.. ” Aaahhh…. ooohhh…..ooohhh…. ooohhh… mmmmmhhmm…ooohhh…mmmmm…. “, kedua tangan wanita berjilbab yang sintal itu mencengkeram rambutku dengan kuat… kepalanya yang masih berjilbab semakin menyusup ke pojok sofa… matanya merem melek merasakan kenikmatan yang sesungguhnya terlarang baginya… buah dadanya terus kuremas-remas… kuciumi… ku urut-urut…. Aaaahhh nikmatnya… kugeser tubuhku ke sampingnya, kuturunkan kedua kaki ke lantai, sambil berlutut aku terus menelusuri setiap lekuk tubuh Bu Rofikah dengan mulutku, kujilat-jilat puting dan perutnya secara bergantian…. wanita alim itu semakin menggelinjang-gelinjang. Desahan pasrah dan bernafsunya semakin terdengar jelas. Air matanya masih terus mengalir, karena malu telah ikut menikmati eprmainan ini.

Tangan kananku berusaha membebaskan kontolku yang sudah sangat tegang dari penghalang, dengan sekali tarikan, seluruh kancing celanaku langsung terbuka… kontolku langsung menyeruak, berdiri dengan kokoh juga keras… kuturunkan celanaku perlahan-lahan tanpa sepengetahuan Bu Rofikah. Setelah itu, tangan kananku menyibakkan bawah baju panjangnya yang longgar sambil mengelus dan meraba-raba pahanya yang putih, yang selama ini etrtutupi rok panjang.. makin ke atas, hingga tiba pangkal pahanya yang masih tertutup celana dalam warna hitam tipis. Wanita berjilbab itu mengerang lemah.

Kuletakkan telapak tanganku dengan perlahan, kuusap-usap dengan lembut…. kugesek-gesek jari tengahku di celah bibir memeknya …  tubuh Bu Rofikah tiba-tiba tersentak, tangan wanita alim berjilbab itu menggapai-gapai berusaha menarik tangan kananku… ” Boy… jangannn… oohhh…mmhhmm…. oh..  ja..ja..ngannnn…. mmhmm… oohhh…aaahh… Boooy…. mmmhhmmm… mmmhhmm…..”, desahannya makin keras… seperti merintih kesakitan… ruanya baru kali ini memeknya disentuh tangan laki2. tangannya terus menggapai tanganku. Ketika tanganku terpegang, langsung ditariknya ke buah dadanya… sejenak ku ikuti kemauannya. Kedua buah dada wanita berjilbab yang cantik itu kuremas sambil menyedot-nyedot dan menggigit putingnya.

Mulut Bu Rofikah terus merintih-rintih nikmat. Wanita berjilbab itu telah hanyut dalam birahi. Tangan kananku terus berusaha membuka celana dalamnya, tapi selalu gagal karena pahanya dirapatkan dan tangan kirinya memegangi tanganku. Berkali-kali kucoba, tapi selalu gagal…. Mulutku kuarahkan kembali ke mulutnya… bibirku dan bibir wanita alim itu menyatu… saling mengulum… menyedot…. menggigit… dan buah dadanya kuremas dengan kuat…. ”  Mmmmmhhmmm…. mmmmhhhmmm….mmhhmmmmmm…. mmmhhmmm … “, dia merintih-rintih sambil berciuman. Kedua tangannya menjambak rambutku, kedua pahanya merenggang sendiri.

” Nah, sekarang “,kuambil gunting kecil dari celanaku, kusingkap perlahan bagian bawah baju panjang wanita cantik yang alim itu sampai ke perutnya, lalu perlahan-lahan sekali dan tanpa menyentuh memeknya, sedikit demi sedikit kugunting bagian depan celana dalamnya dan aku berhasil tanpa disadari olehnya. Nafsuku semakin berkobar membayangkan kenikmatan saat kontolku keluar masuk lobang memek perawan wanita alim yang selama ini selalu menjaga tubuhnya ini. Sedikit demi sedikit aku menggeser tubuhku ke antara dua pahanya, tanpa ada paksaan, kedua paha putih montok wanita berjilbab itu berhasil kurenggangkan hingga tubuhku ada diantaranya dengan posisi bertumpu pada lutut. Baju panjangnya sudah awut-awutan, dengan kancing bagian depan terbuka hingga perut, dan bagian bawah sudah tersibak sampai perutnya. Jilbab panjangnya kini hanya membungkus kepalanya, memberi sensasi erotis. Celana dalamnya yang telah berhasil kusobek samar memperlihatkan memek wanita berjilbab itu yang merah menggairahkan.

Tubuh Bu Rofikah kutarik sedikit demi sedikit  ke pinggir sofa saat mulutku menciumi bibirnya. lalu dagunya kujilati… terus turun… ke buah dadanya… kumainkan lidahku di perut dan pusarnya… Tubuh wanita berjilbab itu semakin menggelinjang gelinjang dan rintihannya semakin keras, ” Ooohhhh… aaahhhh… ooohh… oooohhh…. aahhh…. Booy… aaahhhh…. geliiii…. oohhh…. aa..aahhkkhhh…..”. kini birahinya sudah menguasai sepenuhnya tubuhnya yang sintal.

Ketika posisi lobang memek Bu Rofikah agak ke pinggir sofa, akupun mulai merangkak naik sambil mengusapkan ludah di kepala kontolku yang sudah sangat keras… bibirku dan bibir wanita alim itu kembali bersatu… kami berciuman agak lama… sudah tak tersisa lagi pemberontakannya. nafasnya semakin memburu, seakan sudah tidak sabar disodok kontolku. Wajahnya merah karena malu bercampur birahi… badannya sudah licin oleh keringat,  sorot matanya sayu dan pasrah…. wanita berjilbab lebar ini sudah dalam kekuasaanku sepenuhnya.

Kuangkat kaki kanan wanita alim yang molek itu lalu kuletakkan di atas meja, kedua pahanya semakin merenggang…lalu kugenggam batang kontolku, kuarahkan kepalanya tepat di depan lobang memeknya…, bulu-bulu tipis halus terasa menyentuh tanganku…. Aaahhh, belahan memek Bu Rofikah pasti terlihat jelas… bulu memeknya yang tipis halus tak mungkin akan menutupinya… sambil membayangkan bentuk memeknya, kudorong pantatku dengan sepenuh perasaan…. perlahan namun pasti…. kepala kontolku mulai menyentuh bibir memek perawan milik wanita berjilbab itu…. masuk sedikit demi sedikit…..

Kualihkan perhatian Bu Rofikah dengan memainkan lidahku di lobang kupingnya, ” Ibu cantik sekali… maafin Boy Bu… Bu Rofikah sayaaangg… maafin Boy ya… ” bisikku, kugenggam keras tangan kanannya dengan tangan kiriku…., ” Booy…. oohhh…aahhh…. sudahh yaa… aa..ahhh…. ooohhh…. jangan diteruskan…. Boooy … please… su…su.dah … Ibu takuutt….”, rintih Bu guru berjilbabku itu dengan lirih…. Pantatku terus kudorong…, terasa sebagian kepala kontolku sudah masuk ke lobang memek Bu Rofikah yang sudah basah dan licin tapi sangat sempit…. lalu kugesek-gesek dan kutekan perlahan… tangan kananku terus menggenggam batang kontolku… membimbing hingga semuanya masuk.

Kontolku semakin berdenyut-denyut… ketika kepala kontolku masuk…. tubuh wanita alim itu tersentak… mata mendadak terbelalak kaget…. tangan kirinya menahan perutku menahan dorongan pantatku… tapi tanganku terus menggerak-gerakkan kontolku… kutekan sedikit… kutarik…. kugesek-gesekan ke itil nya… kutekan lagi… kuputar-putar… kugesek-gesek lagi itil nya… hingga dia meratap sambil merintih-rintih nikmat, ” Oooohhh…oohhh…aahh…oohhh….. Booy…. Booyy…. ja..ja..nnggan… ooohh… oohh.. jangan….. mmmhhmmmmm… sakiiitt.. aahhh..uuhhh… sakkkiitt.. Ibu..nggak mau… Booy… oooohh… Booy… jja..ja..ngaaan… a..duuuh…nggg…akh…aahhh…mmhmm..nnggg…. uuhhh…” wanita berjilbab itu pasti baru sekali ini merasakan kesakitan bercampur kenikmatan yang ku berikan.

Walaupun memek Bu Rofikah sudah basah dan licin, kontolku hanya masuk sepertiganya… sempit sekali… ketika kudorong dorong pantatku lebih kuat, tubuh wanita alim yang molek itu bergetar…. rintihannya semakin keras seperti jeritan-jeritan kecil,  ” Boooyy…. aaahhhhhh……aa…aahhhh… uuuuhhhh….. uuhhh… ooohhhhhh….. aaaaaa…. sakiiittt….aww…..mmmmhhmmm……ooohhhh….. mmmmhhmm… nnggak mauu…. Boooyy…. sakiiittt….. Boy.. Booy…Booooy….. Booooooooy……. aaaaaaaaaahhhh…..”

Bu Rofikah menjerit-jerit kecil memanggil namaku ketika doronganku semakin kuat…. semakin kuat…. dan tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang robek didalam memek guruku yang berjilbab lebar ini. Ia terpekik keras. Wajahnya yang ayu dan penuh keringat terlihat sangat kesakitan. Terasa sesuatu yang hangat mengalir pada kontolku. Ternyata aku telah mendapatkan keperawanan guruku yang berjilbab, yang selama ini susah payah ia jaga. Tangisnya semakin keras. Namun aku terus menyodok-nyodok memeknya terus, sehingga lama2 taingsannya kembali berubah menjadi rintihan2 nikmat.

hingga akhirnya kontolku masuk setengahnya, kutarik lalu kudorong lagi lebih kuat, baru masuk 3/4 keburu mentok, terasa kepala kontolku menyentuh dinding yang bergerinjal-gerinjal, saat itu Bu Rofikah merintih agak panjang…. crep..crep crepp… crepp…. bleessssss…… terasa sekali nikmatnya jepitan dinding memek wanita alim berjilbab itu. “Aaahhh….aahhhh…. enaakk…. nikmattt…. “, kontolku terasa agak perih…. tiba-tiba ada cairan hangat merendam kontolku…. hangat dan licin nya mendatangkan kenikmatan tersendiri…. membuatku terpejam sejenak… nikmat…. nampaknya wanita alim ini sudah mulai orgasme….

Kulihat kepala Bu Rofikah mengeleng-geleng dengan kuat… rintihannya menjadi tidak jelas.. seperti orang mengigau…. menangis lirih…. kutegakkan tubuhku sambil kupegang pinggang wanita alim itu yang montok dengan kedua tanganku lalu kumulai gerakan menarik… mendorong menarik… dorong…. tarik…. crepp… blesss…. creppp… blessss…  creppp….crepppp…. crepppp….. tampak sekali pemandangan indah ketika kontolku keluar masuk memek Bu Rofikah, crepp…creppp…. creppp…. creppp… blesss….blesss…. blessss….. anganku melayang dibuai kenikmatan aneh… biar lobang memek Bu Rofikah sempit sekali tapi kontolku keluar masuk dengan leluasa… karena adanya cairan pelicin. Wajah wanita alim itu sudah sangat terangsang.

Bu Rofikah pun semakin tak jelas rintihannya, kadang nadanya seperti menangis… mulutnya menggigit-gigit tangannya yang  mengepal…, ” nghhhh….nghhhh….ngggnggh….. aa..aa..ahhhh….. eekh.. aahh… nggg…ngggg… mmhmm…. o..o..oohhhh… ngghh…. Booooy… sssakiit… nggnggg…. aww… oohh….. Boooy… pelaan… pe..pe..laan….. aaaaaaaaaaaa..aaaahhhhhhhhh…nnggngg….  aaahhhhhhhh……… “

Gerakanku semakin kupercepat… terusss… makin cepaatt…. sesaat kemudian Bu Rofikah merintih histeris, birahi membuatn wanita berjilbab besar itu melingkarkan kedua kakinya di pinggangku… mulut wanita alim itu terus merintih nikmat sambil menjilat dan menggigiti kuku tangannya…. saat itu pula kembali kurasakan ada cairan hangat merendam kontolku di dalam lobang memeknya….. kedua kaki Bu Rofikah menjepit pinggangku dengan kuat hingga tak bisa bergerak beberapa saat…. ” Booy… Boooy… aahhh…ohhh…. ka.. ka..mu jahaat.. aaakkhhh…. akh…. Booooy….. enaaaak…. aa..aaahh… oohh… “, desah Bu Rofikah. Wajahnya yang ayu yang masih terbungkus jilbab menunjukkan kepasrahan. Ia mendapatkan orgasmenya yang pertama kali dalam hidupnya.

Kugeser tubuh wanita alim yang sudah lemas itu memanjang di sofa, kedua kakinya terlipat, kutindih tubuhnya sambil memasukkan kontolku…. dan setelah kugeser-geser posisiku hingga terasa nyaman dan leluasa, akupun mulai menggerakkan pantatku naik turun…. crepp..blesss..creppp..blesss….creppp..blesss…creppp… creppp…creppp… crep..crepp..crepp.. crepp… gerakanku semakin cepat, tubuh Bu Rofikah menggelinjang-gelinjang liar… kedua kakinya melingkar dan menjepit pinggangku… kedua tangan wanita alim yang selalu menjaga dirinya itu mencengkeram punggungku….  lidahku menari-nari di lobang kupingnya… nafasku semakin memburu.. gerakanku semakin cepat…. cepaaat…. makin kuat hentakanku….

Bagian dalam memek Bu Rofikah terasa semakin basah dan hangat, kurasakan kontolku mulai berdenyut-denyut dan terasa sangat geli… inilah saat paling kutunggu… rasa geli yang amat sangat diakhiri dengan keluarnya air mani…. kuperlambat sebentar gerakanku…. lalu kupercepat lagi…. kupercepat lagii…. semakin cepat gerakanku membuat rintihan Bu Rofikah semakin pendek tak menentu, ” mmh.. ugh.. ugh… ugh…aa..a..aahhh.. ngnggg.. uuhh….oohh… mm..mm..mm.. ngng… ohh..ohh.. ohh.. nnngg… eekh… aahh..ahh…mmhh… te..te..te..rus.. te..te..ruus.. oohh.. aahh…aahh.. Bbbooyy… Bbooyy… ah..ah.. sa..sa..yanggg…aahhh… laagii… teruusss.. ehhh… ehh… aaahhh..  “. wanita berjilbab itu terus merintih-rintih dan mendesah-desah keenakan.

Mulut Bu Rofikah megap-megap. Bibirnya yang indah terlihat basah oleh air liur kami berdua. Terlihat pula air liurnya mengalir keluar. Nampaknya wanita berjilbab ini sangat terangsang. tak lama kemudian kontolku berdenyut keras… ingin memuntahkan air mani…,  ” Aaahhhhhh…. aaahhhh…. aa..aa..aaahhhh….  akuu.. tak kuat lagi Buuuuuuuu….. ” gerakan naik turunku semakin cepat….rasa geli semakin terasa… kontolku makin tegang… berdenyut-denyut….

Bu Rofikah semakin histeris, mendadak pantatnya mengangkat dan bergoyang…. memutar…, ” Aaakh… aaaaa…. Booyy….Booooy…….. sa..yang….ta…taa.. oohhh…  tahannn… se…se…bentarr…. ta..ta..hannn….. aa..a…yo…se…sekarang… sekarang… yaaa…yaa….eee..eennaaakk….ooohhh…. oohhh…. mmmhhmm….oooohhhh…… aaaaaahhh……..”  Kontolku terasa dipilin-pilin dan disedot-sedot…… akhirnya…., ” Aaaaahhhhh…. aaahhhh….. Ibuuuu…. aaahhh…ahh…”, kudorong pantatku sekuat-kuatnya…, air maniku menyembur banyak sekali cret…cret…cret…cret…cret…cret…cret… kupeluk tubuh wanita montok berjilbab itu sekuatnya…, mataku terpejam merasakan kenikmatan tiada tara yang barusan terjadi…..,  demikian juga Bu Rofikah ketika maniku menyembur di dalam memeknya… badannya seperti menggigil dan tersentak-sentak… kedua mata indah wanita alim itu terbeliak-beliak nikmat……, kedua kakinya melingkari  pinggang dengan kuat….. kedua tangannya mencengkeram punggungku sampai kukunya menancap, kureguk seluruh kenikmatan sambil kami saling memeluk, mencium sambil berguling-guling untuk meredam nafsu dan emosi yang sangat tinggi.

Setelah kurang lebih sepuluh menit saling berpelukan, aku mulai bangkit, kuangkat tubuhku, perlahan-lahan kucabut kontolku dari lobang memek Bu Rofikah. Air maniku terlihat mengalir keluar, menetes bercampur darah keperawanan dan cairan cinta wanita berjilbab itu. kuseka dengan rok panjang yang masih di kenakan Bu Rofikah. Lalu kubersihkan dengan mengusap-usap celah memeknya yang merah merekah yang hanya ditutupi bulu bulu halus dengan potongan celana dalam hitam wanita berjilbab itu.

Tubuh Bu Rofikah masih tergolek lemas… tak bertenaga…. tapi tatapan mata wanita alim itu mengarah tajam kearahku… aku mencoba untuk tersenyum… sambil menjulurkan tangan menolong untuk bangkit. Tak lama Bu Rofikah duduk disampingku tanpa membereskan bajunya terlebih dahulu, buah dadanya hanya tertutup sebelah saja, roknya tidak diturunkan hingga pahanya tidak tertutupi. Ujung-ujung jilbabnya masih terlilit di lehernya. Sepertinya dia tidak mala-malu lagi padaku, tapi mata wanmita berjilbab itu terus menatapku….

” Ibu marah…. ? “, tanyaku sambil tersenyum lalu mendekatkan bibirku ke bibirnya…, tapi tiba-tiba plokk…plokk… kedua pipiku ditampar keras. Aku berdiri bengong sambil mengusap-usap pipi, tadi dia bilang sayang, tapi sekarang menamparku…. eeh… setelah menamparku Bu Rofikah tertunduk sambil menangis di di depanku. Aku jadi bingung….., nggak ngerti kok jadi begini, tapi aku tidak mau tahu…. pokoknya aku berhasil menyetubuhi wanita berjilbab montok itu dan aku benar-benar puassss.

Tanpa berkata sepatah katapun, aku memakai celanaku kembali, langsung membereskan buku catatan les Matematikaku, bersiap untuk pulang. Tiba-tiba Bu Rofikah berlari masuk ke kamar tidurnya sambil menangis terisak-isak….. Semula aku sih cuek-cuek aja…, lama kelamaan aku menjadi tidak tega…. kuikuti masuk kamar tidurnya…. kulihat wanita berjilbab lebar itu sedang menangis sambil tengkurap sambil memeluk bantal, jilbabnya awut-awutan, roknya tersingkab, sebagian pantatnya ke bawah terlihat jelas, kulitnya bersih, putih mulus, bagian pantatnya yang lain masih tertutup celana dalam hitam tapi sudah sobek digunting dan sebagian punggungnya terbuka. Sepertinya wanita alim sudah tidak memperhatikan lagi keadaan dirinya. Jiwanya berkecamuk. Sebagian marah karena tindakanku, namun juga malu karena ikut menikmatinya.

Aku duduk di sisi tempat tidur, sambil menunggu reaksi, kuperhatikan sekeliling kamarnya, hampir semua barangnya bagus dan bermerk. Tempat tidurnya empuk sekali, pegasnya sangat elastis, isak tangis Bu Rofikahpun cukup terasa membuat kasur seperti bergelombang. Stereo set, TV, meubel, lukisan, tumpukan sepatu dan peralatan kosmetiknya termasuk merk yang sangat mahal.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, nggak terasa sudah lima jam aku berada di rumah Bu Rofikah. Hampir lima belas menit aku menunggu, tapi isakan Bu Rofikah belum berhenti juga. Ketika aku duduk di sampingnya, kucoba memegang tangannya, uluran tanganku langsung ditepis olehnya. Aku semakin bingung, kucoba mengusap kepalanya yang terbungkus jilbab, tapi dia semakin terisak-isak sambil menggeser tubuhnya menjauhiku sambil menedang-nendangkan kakin putihya kearahku…. tanpa disadarinya  potongan celana dalam yang menutupi sebagian pantatnya terbuka… seluruh pantat sampai ke kaki terlihat sangat jelas.

Iseng-iseng kuperhatikan dari kaki hingga pangkal paha wanita berjilbab itu, kulitnya putih bersih merata,  mataku terpaku di belahan pantatnya…. terlihat jelas lobang anusnya tertutup rapat dan disebelahnya tampak celah yang merekah berwarna merah muda dikelilingi bulu-bulu halus… membuat aku terangsang oleh pemandangan yang terpampang jelas di depanku, kurasakan kontolku bergerak mulai menegang……  kucoba mengalihkan perhatian dengan memandangi lukisan tapi kontolku malah semakin tegang.

Pusing aku jadinya……. tampaknya Bu Rofikah marah padaku……. akhirnya kutimbang-timbang antara pulang saat itu juga atau menunggu sampai kemarahan Bu Rofikah reda. Tapi pikiranku semakin sulit diajak kompromi, perhatianku tetap tertuju pada celah yang merekah itu…… terbayang nikmatnya ketika kontolku keluar masuk celah itu. Celah kenikmatan seorang wanita berjilbab yang selalu menjaga tubuhnya dari pria-pria hidung belang…. Apakah Bu Rofikah masih mau kusetubuhi selagi dia masih marah padaku.. tapi.. jangankan kusetubuhi, baru kupegang tanganpun dia tak mau….. kusetubuhi atau tidak, dia tetap marah padaku…, ” Ah, tadipun dia tidak mau kusetubuhi, tapi setelah terangsang dan merasakan nikmatnya bersetubuh akhirnya dia mau juga, kucoba lagi ah…. “, pikirku.

Diam-diam kucopot kancing celanaku satu per satu, kubuka seluruh penutup tubuh hingga telanjang bulat….  perlahan-lahan kugeser tubuhku mendekati pantat montok wanita berjilbab itu yang sudah terlihat…. Tempat tidur pegas Bu Rofikah benar-benar asyik…. sedikit gerakan membuat permukaan kasur bergoyang seperti gelombang. Bu Rofikah tahu aku mendekatinya… wanita montok berjilbab itu malah menutupi kepalanya dengan bantal…. hingga dia tak tahu bahwa aku sudah telanjang bulat……. samar-samar kudengar isak tangis yang ditahan….. tapi aku tak perduli.. yang kuperhatikan hanya lobang memek yang merekah berwarna merah muda di belahan pantatnya.

Sambil menunggu saat yang tepat, kucoba bersikap baik, kuusap-usap punggungnya dengan lembut. kaosnya kurapikan sehingga punggungnya  tertutup ternyata Bu Rofikah tidak menunjukkan gerakan menolak perbuatanku…. akupun semakin berani….. diam-diam kembali ku singkap lebih keatas naju terusannya. kupijat-pijat lembut kaki wanita alim itu sambil menggeser sedikit demi sedikit supaya renggang…. lalu aku tengkurap di sebelah Bu Rofikah…. kuusap-usap lagi punggungnya… kuangkat sedikit bantal yang menutupi kepalanya…  kutempelkan mulutku di kupingnya sambil berbisik ” Buu…. maafin Boy ya…. perbuatan Boy bikin Ibu jadi sedih…. aku janji tidak akan mengulanginya….. maafin Boy ya…….. “, Bu Rofikah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutupi kuping dengan kedua telapak tangannya, wajahnya tertunduk dalam… sepertinya dia tidak mau mendengar omonganku atau melihatku lagi… karena perbuatanku tadi.

Aku mengangkat tubuhku perlahan-lahan… kutindih punggung wanita berjilbab yang bahenol itu… sambil kubelai lembut kepalanya yang masih tertutup jilbab. bahu Bu Rofikah terguncang-guncang… isak tangisnya makin keras… dikiranya aku akan menghiburnya, padahal kugeser pantatku sedikit demi sedikit sambil menyibakkan terus baju terusannya, sampai seluruh pantatnya yang bahenol terlihat. kusibakkan semua yang menutupi belahan pantat wanita berjilbab montok itu, hingga  lobang memeknya yang makin merekah terlihat jelas… akupun jadi tidak sabar ingin menusukkan kontolku ke lobang kenikmatan seorang wanita berjilbab yang sudah menganga itu.

Kubasahi kepala kontol dengan ludah…. perlahan-lahan kuangkat pantatku hingga tepat di atas pantat Bu Rofikah… dan kurapatkan kedua kakiku diantara kakinya…. kugenggam kontolku…. kuarahkan kepalanya tepat di bibir lobang memek wanita alim itu….  pantatku turun pelan-pelan…. tanpa ragu-ragu langsung kudorong…. Akh, kontolku sulit masuk… seret… masih kering dan sempit… ada rasa perih di kontolku.

Saat itu tubuh Bu Rofikah tersentak…. wanita berjilbab itu kaget sekali… merasa ada sesuatu menyentuh bibir memeknya dan memaksa masuk…. tubuhnya langsung meronta-ronta… ingin melepaskan diri dari tubuhku….. tubuhnya bergeser maju…  pantatnya digoyang-goyang…. berusaha untuk menghindari dorongan kontolku… kedua kakinya tak bisa apa-apa karena tertahan oleh rok dan kakiku…. sambil menahan tubuhnya… kudorong kontolku dibantu tangan kananku… hingga pada dorongan keempat, kontolku masuk setengahnya…  kudorong lagi…. kutekan sedalam dalamnya sampai mentok….

Makin kuat Bu Rofikah meronta makin terasa tubuh kami bergoyang-goyang… berayun-ayun… akibat pegas tempat tidurnya sangat elastis….  tanganku langsung menyusup ke balik baju terusannya yang bagian depannya sudah terbuka lebar… kuraba-raba perutnya… Bu Rofikah semakin meronta.. kupeluk tubuhnya dengan cara menyilangkan kedua tangan sambil mencengkeram buah dadanya yang kenyal dan keras… lalu kuremas-remas dengan lembut…. kedua putting kemerahan wanita berjilbab itu kutarik-tarik dan kupuntir-puntir… mulutku menjilat-jilat dan menciumi tengkuknya sampai basah… kujilat hingga ke belakang kupingnya…. kugigit-gigit ujung kuping…..

Gerakan meronta tubuh Bu Rofikah makin melemah… kutekan pantatku dengan kuat sambil kuputar-putar…. hingga tubuh kami bergoyang-goyang.. pegas tempat tidur ini memang sensitf sekali sedikit saja bergerak langsung terasa seperti diayun-ayun… aku merasakan kenikmatan bersetubuh yang unik di tempat tidur ini… kulihat mata Bu Rofikah berkaca-kaca…. wanita berjilbab itu menangis… merintih-rintih kesakitan…… ” Nngg…nnggng… uuhhuu….uuuhhh…nggg… aduuuhhh… sssssssakiiiitt….. nngg…… aaaaa….aaa….”

Tubuhnya tengkurap tak bergerak…. tangannya menjuntai lemas…. pelan-pelan kutarik kontolku… aduuhh sempit sekali… rasanya seperti di jepit… kudorong lagi pelan-pelan…. kutarik…. kudorong….. kutarik….. creeeeeeep… creeeeeeep… creeeeeeep… creeeeeeep….. creeeeep……. seret sekali……

Kucabut kontolku lalu kubasahi lagi dengan ludah…. kumasukkan lagi…. Nah, sekarang  agak licin. Terasa buah dadanya makin mengeras… putingnya kupijit dan kupuntir…. samar-samar kudengar rintihan kesakitan Bu Rofikah berubah menjadi rintihan nikmat… akupun mempercepat gerakan naik turun sesuai ayunan pegas tempat tidur ini… pantat Bu Rofikah bergerak seperti membalas gerakanku…. bergoyang, menarik dan mendorong… rintihan nikmat wanita montok berjilbab itupun semakin jelas dan keras… tampaknya Bu Rofikah kembali terhanyut oleh kenikmatan persetubuhan ini, rasa sakitnya sudah berubah menjadi sakit-sakit nikmat. Aku yakin sebentar lagi wanita alim itu tidak akan merasa kesakitan…. tapi kenikmatan yang luar biasa……

Dia merintih, ” Aa..ahhhh… aahh.. mmmhhmm… ooohhhh… ooohhhh.. ooohhh… a.. aa..a.. aahhhh…”  tak lama kemudian terasa ada cairan hangat membanjiri seisi memek Bu Rofikah…. kontolku semakin lancar keluar masuk… menggesek-gesek dinding memek wanita alim itu… mulai terasa nikmat… gerakan naik turunku semakin cepat…  Aku semakin bernafsu… creepp…creepp…creepp…creepp… creepp… creepp… creepp…. creepp.. creepp.. creepp… dan terasa dinding memeknya seperti berdenyut.

Bu Rofikah semakin histeris…  ” A..aa..hhh….aa…aaa..aahhhh… Boooy…. ooohhh…ooohhh… aa…aa..aahhh…. mmmhhhm…aahhh…ooohh…oohhhh…. Bbboooyy…. ssu..su..ddaah… aakh..aaah…. ssu..ssud…. a..aa..aaahhhhh…. te…tee..russs… Bbbooy… llagii.. laagii… oohhh…. “, Mendengar rintihan tak keruan itu, aku makin liar… kuangkat tubuhku lalu kutahan dengan sebelah tangan sambil kucengkeram kepalanya yang tertutup jilbab…. gerakan naik turunku makin cepat…. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep..  dengan gaya seperti joki sedang menunggang kuda.

Tangan Bu Rofikah yang semula terjuntai lemas menggapai-gapai ke kakinya menarik-narik roknya… dia ingin kedua kakinya bebas bergerak… Akupun mengerti… lalu kucabut kontolku dengan cepat dan Bu Rofikah menjerit kecil ” Ja..jangan..dilepass….” tubuh wanita berjilbab itu meronta-ronta… cepat-cepat kutarik baju terusannya juga celana dalam yang sudah sobek kugunting… kini tubuhnya hanya ditutupi jilbab panjang yang sudah awut-awutan. Jilbab itu semakin membakar birahiku yang sudah di ubun-ubun.

Bu Rofikah langsung membalikkan tubuhnya sambil mengangkang dan tangannya menarik pinggangku… dengan tergesa-gesa kumasukkan kontolku ke lobang memek legit wanita berjilbab itu… kutekan dengan kuat…. kutarik…. lalu kutekan dengan kuat…. bibir kami saling mengecup….menyedot…. gerakanku semakin liar……. creeepp….creeepppp…creeppp….creeppp… creepppp…creeeppp….  kutekan kontolku sampai mentok… creeeeeepp… ” Bboooy…. aahhhh… ooohhhhh…. oohhh….ooohhh….. enaaakkk….. ooohhh… Booy.. terruuss… te..tee..rrusss… ooohhh….  aaahhhhh…. aaaaaahhhhh….. “, wanita berjilbab itu sudah tak mampu mengendalikan dirinya, terus merintih rintih dan menjerit histeris… matanya terbeliak-beliak… tangannya menarik-narik pantatku…. kakinya menjepit pinggangku dengan kuat hingga tak bisa bergerak…. sepertinya Bu Rofikah baru mencapai puncak kenikmatan… terasa muncul cairan hangat membanjir, merendam kontolku.. licin sekali… hingga kontolku seperti ada di lubang yang besar, basah, hangat dan licin.

Tiba-tiba Bu Rofikah mendorong tubuhku dengan kuat hingga kontolku terlepas…. ” Sudah ah… ” katanya dengan bibir bergetar, kemudian kedua tangannya menutupi mukanya dengan kedua kaki masih mengangkangi tubuhku. Akupun ikut diam tapi untuk beristirahat memulihkan tenaga dan mengatur nafas lalu kuseka batang kontolku yang basah dengan kaos. Ketika aku bersiap kembali memasukkan kontolku, Bu Rofikah berkata dengan lirih, ” Boy, sudaaahhh…, Ibu mohon jangan diterusin… Ibu takut hamil..”  dengan kedua tangan menutup memeknya, wanita berjilbab itu berusaha duduk sambil menarik mundur pantatnya menjauhi kontolku… tampaknya dia ingin mengakhiri persetubuhan ini.

Akupun berdiri di tempat tidur sambil mengusap-usap kontolku yang masih berdiri tegak, sambil duduk Bu Rofikah memandangku dengan sayu dan berkata, ” Terima kasih Boy, kamu mau ngerti “.

Tanpa berkata apa-apa, aku bergerak mendekatkan kontolku ke wajahnya…. kupegang kepalanya yang terbungkus jilbab… kudekatkan kontolku ke mulutnya, rupanya Bu Rofikah mengerti kemauanku, wanita berjilbab itu menggelengkan kepalanya, ” Nggak..Ibu nggak mau !”. Kupegang kepalanya dengan kedua tanganku… kutempelkan ujung kontolku ke bibir indahnya…. kudorong-dorong…. tapi mulut Bu Rofikah tertutup rapat…. ” Ayolah, sebentar saja Bu…”, kataku sambil duduk di depannya, Bu Rofikah tetap menggelengkan kepalanya, sambil berkata ” Nggak…nggak mau… pokoknya nggak mau… jijik….!”.

Aku jadi gemas, kutarik tubuh wanita berjilbab lebar itu hingga menindih tubuhku, kupeluk tubuhnya lalu kucium bibirnya…. dengan lemah tubuhnya meronta-ronta… kulumat bibirnya… kumainkan lidahku di dalam mulutnya, sampai akhirnya wanita bahenol itu membalas pelukan dan ciumanku… kami berciuman lama sekali, sekali dia berhenti menciumku… dia hanya memandangku…. tangannya mengusap-usap rambutku….

Tanpa disadarinya, aku mengarahkan kontolku ke lobang memeknya. Ketika posisinya sudah tepat, kuangkat pantatku mendorong dan blesssss…. kontolku langsung masuk, tubuh Bu Rofikah tersentak, wanita alim itu berusaha mengangkat pantatnya… tapi pingangnya kutahan dengan kuat… malah kutekan kebawah hingga kontolku hampir masuk semua… Bu Rofikah mendesah, ” Booy… aa..aaahhh… kamu memang nakaal… Booy… oohhh.. aaahhhhh….”

Lalu kami saling pandang, lama… tak ada yang bergerak diantara kami…. Bu Rofikah menundukkan kepalanya… dia mencium bibirku lembut sambil berkata ” Kamu memang nakal.. jahil… kamu nggak mudah menyerah rupanya… nggak mau nurut sama omongan Ibu… kamu jahat…. sekarang lepasin tangan kamu.. kalo nggak… awas !”.

” Tapi Bu… ” kataku, sambil mengerak-gerakkan pantatku keatas… dan menekan-nekan pinggangnya ke bawah…  kuangkat pantatku berulang ulang… sesekali ketika kuangkat pantatku dengan kuat, pinggangnya kutekan ke bawah, hampir seluruh batang kontol masuk ke dalam memek Bu Rofikah… saat kepala kontolku menabrak dinding paling dalam, Bu guruku yang cantik dan berjilbab itu menjerit kecil, badannya bergetar….

Diapun tidak bisa menyelesaikan kata-katanya dengan benar, malah jadi merintih nikmat, ” Nggak ada tapi-tapian, kamu mau lepas nggak ? Ntar Ibu mmma..mmau…. la..lapor…. aaahhhh… aaww…. sstt…. ooohhhh…. ntar… Ibu.. laporrrinn… ssama… aww… ppo.. mmhhmm…aaahhhh.. polisssiii… aahhh…. ooohh… aaahhh…. aww.. aaaaaaaaaaaaaahhhh… sssstt….. aahhh…. ooohh… aa..aaww…. Bbooy… terusss…. aaahh… oohh…. Booooy…. Boooyyy…. aa..aaaaaww…. aaahhh… ooohhh…. te..teruuss… teruuusss… oohh… aahh… oohh..oohhh.. eeenaaakk… aa..aaaww… lagiii… enaak.. ssaayyaang….”

Kudorong tubuh wanita berjilbab itu supaya tegak, hingga posisinya seperti sedang berjongkok diatas kontolku dan pantatnya kutahan dengan kedua tanganku, kuhentak-hentak… kudorong.. pantatku keatas dengan kuat, dengan bantuan tempat tidur pegas ini, hentakanku makin lama makin cepat… sambil sesekali pantatnya kudorong melawan hentakanku hingga kontolku masuk sedalam-dalamnya…. aduuhh nikmat sekali… makin lama makin terasa sempit dinding memeknya yang paling dalam dan ada sesuatu yang bergerinjal-gerinjal menjepit kepala kontolku…. aku merasakan suatu kenikmatan yang baru… kutekan  pantat Bu Rofikah ke bawah… kutahan beberapa saat… kurasakan kepala kontolku terjepit dinding yang bergerinjal-gerinjal… aku terdiam… mataku terpejam… nikmaat…. enaaakk… saking nikmatnya… akupun mendesah, ” Buuu… enaak sekaliiii…. ssstttt…. aahh… Ibuuu..Buu.. Indaahh… gelii… enaaak… ayooo…dong… gerakin lagi pantatnya… yaaa…. saayyanngg… yaa…”

Kulihat dia merintih sambil menggigit bibirnya, matanya terbeliak-beliak… merem-melek…. kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri. Wajahnya yang masih terbalut jilbab terlihat sangat terangsang…. kepalanya menggeleng-geleng…. setiap kepala kontolku menyentuh dinding memeknya yang paling dalam… tubuhnya tersentak dan gerakannya semakin histeris… pantatnya naik turun dengan cepat…. rintihannya semakin keras… diselingi jeritan kecil setiap pantatnya menekan ke bawah… ” Booyy… aah.. ooohh.. oohh… aa..aaa…aawww… aaaa..hhh… oohhh…aaahh… aa.aa.aaaawww…. Bbbooyy.. eenaak…. aahh…aaahhh… aa…aaa..aaaww…. enaak….” Akhirnya ketika Bu Rofikah menekan pantatnya dengan kuat, hingga kepala kontolku dijepit dinding bergerinjal-gerinjal, mulai terasa ada rasa geli luar biasa…. kontolku berdenyut-denyut…. terasa air maniku memakas ingin keluar… hingga tak mungkin lagi kutahan…..

” Buuu..Buu Rofikaaahhh.. Boy ma..mmau keluarrr… aduuhhh… geliii… ” rintihku.

Bu Rofikah menggerakkan pantatnya maju.. mundur… lalu berputar.. maju lagi… ke kiri.. ke kanan… diangkat sedikit… terus maju lagi… berputar lagi… kontolku terasa dipilin-pilin… diurut-urut…. disedot-sedot… rasa geli itu semakin kuat… makin kuat…. nikmat bercampur geli… ternyata guruku yang berjilbab ini mulai pandai menggoyang pantatnya yang montok, membuatku kelojotan.

Tiba-tiba tubuh Bu Rofikah menyentak-nyentak sambil menjerit kecil, ” Booyy… ayo… ssssayang… sama.. samaa.. aaahh… oohh… aaahhh… BBooooooyyyyyyyyy…. aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh….” tubuhnya menindihku…. pantatnya menekanku dengan kuat…. bibirnya mengulum bibirku…. wanita berjilbab itu memelukku dengan kuat…. dan akupun memeluknya lebih kuat…. sambil membalas ciumannya…..

Bersamaan dengan itu… ” Aaaaaaahhhhhh…… ” kontolku menyemprotkan air mani ke dinding memeknya berkali-kali… cret… cret… cret… cret… cret… cret… cret… aaahhh.. nikmatnya……. tak terasa tubuh kami berguling-guling… sambil berpelukan dan berciuman… mereguk seluruh kenikmatan dari persetubuhan ini.

Selama dua puluh menit, kami terdiam sambil berpelukan. Tak lama kemudian, kami melepaskan pelukan bersama, dan terlentang di kasur pegas kecapaian. Bu rofikah terlihat sangat capai. Tak lama, sambil masih terus terlentang, kembali isak tangisnya terdengar. Aklu sudah masa bodoh dengan tangisannya. Aku sangat puas dilayani. Bahkan kenyataannya, wanita berjilbab itu juga turut menikmati goyangan dan sodokanku di memeknya. Segera aku bangkit dan keluar mengambil tasku. Aku ambli kamera digital didalam tasku, dan menggunakannya untuk mengambil gambar bu Rofikah yang masih terlentang lemas di kasur. Foto ini akan kugunakan untuk mengancam wanita cantik itu agar tidak melaporkan semuanya, walaupun aku yakin tanpa diancampun dia tidak akan melaporkan perbuatan yang bisa membuatnya malu itu. Tiba2 melihat wanita berjilbab yang hanya tinggal memakai jilbabnya dan terlentang pasrah di kasur, kontolku bangkit lagi. Segera kudekati dia, dan kembali kumasukkan kontolku, kusodokkan ke memeknya. Kembali rintihan dan desahan nikmatnya terdengar. Nampaknya wanita cantik putih yang selalu memakai jilbab ini  sudah mulai ketagihan konyol.

TAMAT