Nur Mustika Diperkosa Disebuah masjid

Wanita alim itu menggelinjang dengan erotisnya. Asep lalu membuka semua pakaian kumal yang melekat di tubuhnya. Lalu ia baringkan badannya di antara kedua paha Mbak Tika. Penisnya tegak menantang ingin masuk ke dalam lobang Mbak Tika. Lalu ia buka paha wanita berjilbab yang montok itu dan terlihat lobang yang siap dimasuki oleh penis Asep..

Nur Mustika atau sering dipanggil mbak Tika adalah seorang wanita berumur 26 tahun yang baru 2 tahun menikah dengan Randi, suaminya. Wajahnya yang canti dan putih bersih serta tubungnya yang montok menggairahkan sangatlah membuat suaminya mencintainya. Namun begitu, Nur Mustika benar2 menjaga dirinya, dan memastikan agar hanya suaminyalah yang berhak melihat keindahan tubuhnya. Karena itu, wanita itu menggunakan baju terusan yang lebar serta jilbab yang juga lebar. Bajunya yang memang mamu sedikit menyembunyikan keindahan tubuhnya itu justru membuat suaminya semakin bergairah. Tapi tidak mengapa, karena Nur Mustika juga sebenarnya memiliki libido yang tinggi.

Tetapi, suatu ketika sang suami mendapat panggilan belajar di luar negri selama 3 bulan. Terpaksalah sang suami meninggalkan Mbak Tika untuk pergi keluar negri. Sebenarnya, mbak Tika mengikhlaskan suaminya pergi, apalagi untuk kebaikan karir kerjanya, tapi yang membuat mbak Tika bingung dan resah adalah jika nafsunya datang menghentak-hentak. Sering timbul dalam pikirannya untuk melakukan hubungan sex yang aman dan berisiko kecil, walaupun itu segera ia tepis. Ia sadar, ia adalah istri orang.

Suatu hari, Mbak Tika terlihat keluar dari rumahnya membawa sekantong plastik beras. Di bulan romadhon itu, sang istri muda yang alim itu hendak pergi ke masjid didekat rumahnya untuk membayar zakat untuk dirinya dan suaminya. Karena masjid yang terdekat dari rumahnya lumayan jauh, apalagid engan dia membawa sekantong beras, maka ia memutuskan untuk menumpang becak. Ia menyadari, abang becak yang mengkal didekat rumahnya yang bernama Asep itu sering mencuri pandang ke pantat dan dadanya saat mbak Tika melintas didepannya, walaupun dia sudah memakai baju yang longgar dan juga jilbab lebar. Mbak Tika amat merasakan hal itu. Setelah suaminya pergi, mbak Tika justru merasa gairahnya semakin menaik ketika sang tukang becak tadi memandangnya dengan menahan nafsu. Bahkan bulan puasa tidak bisa mencegah menggelegaknya nafsu birahinya.

Asep adalah tukang becak yang berumur 40 tahun. Sosoknya hitam, badan sedang, dan pandangannya sangat menusuk terutama kepada mbak Tika. Pandangannya seakan hendak menelanjangi mbak Tika dan menelan gadis cantik berjilbab itu bulat2. Asep adalah lelaki yang telah berkeluarga dan memiliki 4 orang anak yang telah beranjak dewasa. Istrinya dulu bekerja sebagai tukang cuci di tempat Mbak Tika, namun kini pergi keluar negri sebagai TKW. Asep juga adalah bekas preman yang telah sadar, dan kembali bekerja secara baik-baik. Dulunya ia pernah masuk penjara. Tidak heran di pahanya ada tatto.

Asep sering juga menelan ludah jika Mbak Tika yang menumpang becaknya. Selain cantik, tubuh Mbak Tika juga montok. Baju kurung yang lebar dan jilbab besar yang ia pakai justru semakin membuat Asep penasaran, dan membuat imajinasinya membumbung tinggi.

Singkat kata, Asep jadi mengantarkan sang istri muda alim berjilbab besar bertubuh montok itu kemasjid. Sesampainya dimasjid, Asep melihat keadaan sepi. Maklum saat itu bukan hari libur dan masih pagi, jadi walaupun bulan romadhon, masjid dan kawasan kompleks tempat mbak Tika tinggal sepi, karena penghuninya bekerja.

Melihat keadaan itu, Asep merasa bahwa inilah kesempatan yang bagus untuk menikmati tubuh sang istri muda yang berjilbab dan bahenol itu. Asep juga mengetahui dari tatapan mata mbak Tika dan berita bahwa suami wanita alim montok itu pergi, wanita ini pastilah sudah lama tidak melampiaskan hasrat birahinya.

Ketika Mbak Tika hendak turun dari becak Asep, sengaja Asep menggerakkan becaknya, sehingga Mbak Tika terjatuh ke tanah. “aduh!!” teriak Mbak Tika tertahan. Wanita alim itu terjatuh dengan berlutut.

“maf mbak! Becaknya gak sengaja bergerak.” Kata Asep.

“tidak apa2 bang… cuma sakit sedikit…” kata Mbak Tika sambil meringis kesakitan pada lutut dan kakinya. “bisa minta tolong membawakan berasnya kedalam, bang?” tanya mbak Tika. Sebenarnya ia sudah berprasangka buruk, namun ia tepis prasangka buruk itu, dan juga berharap bahwa didalam masjid ada orang lain yaitu petugas pengurus zakat, sehingga ia tidak sendirian dengan tukang becak itu.

“boleh, mbak.” Kata Asep. Segera ia dan Nur mustika sang wanita alim montok itu masuk kedalam masjid. Asep sengaja membawa beras Nur kebagian dalam, tidak hanya diserambi, agar rencananya menikmati tubuh Nur mustika yang montok itu tidak terlihat oleh orang lain. Nur mustika mengikuti Asep masuk kedalam.

“sepi mbak. Sepertinya petugasnya baru keluar sebentar, ditunggu saja.” Kata Asep. Sebenarnya ia tahu bahwa  petugas penerima zakat dikompleks itu sedang pergi keluar untuk menemui anaknya diluar kota dan baru kembali sore nanti, namun Asep berbohong untuk menahan Nur Mustika lebih lama.

Nur mustika mengangguk dan meletakkan pantatnya dilantai bagian dalam masjid, bersandar ditembok sambil mengelus-elus lututnya yang masih terasa sakit dari luar roknya.

Lalu Asep berjalan kearah Mbak Tika.

“Ada apa, bang?” tanya Mbak Tika.

“Mbak, saya mau minta maaf, tadi mbak sakit gara-gara saya. Sin, saya bantu mengurut. Saya sudah pernah belajar mengurut, jadi kalo cuma keseleo atau terkilir biasa…” kata Asep sambil mengulurkan tangannya hendak meraih kaki Mbak Tika yang masih terbungkus rok panjang dan kaus kaki putih.

Nur Mustika terkejut. Ia bingung. Hendak menolak bantuan tukang becak itu, ia merasa tidak enak. Namun untuk menerimanya, ia tidak mau tubuhnya itu dijamah orang yang bukan suaminya. “eee… Anu pak… jangan… gak usah…” kata Mbak Tika pelan.

“Sudah, gak papa mbak… jangan malu2… cuman dipijit…” kata Asep. Tangannya tidak menunggu waktu. Sambil tangannya bergoyang, ia raih betis Mbak Tika yang mulus itu dari luar roknya. Dari jari kaki ia mulai mengurutnya. Sesekali matanya melihat ke wajah Mbak Tika, yang menatap bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

Asep ternyata memang jago memijit. Nur Mustika yang tadinya hendak menolak, lama-kelamaan mulai keenakan dan menikmati pijitannya. Pemandangan yang sangat erotis, melihat seorang wanita alim berjilbab besar terlihat merem melek matanya, menikmati pijitan seorang yang bukan suaminya didalam sebuah masjid yang sepi.

Pelan-pelan Asep menaikkan rok panjang Mbak Tika, dan akhirnya nampaklah betis putih wanita berjilbab itu. Lalu ia urut satu satu betis putih itu. Mbak Tika pertama kali terkejut, merasa betisnya diraba langsung oleh sang tukang becak, namun urutan dan belaian tukang becak itu membuat ia lupa diri. Kini tidak hanya diam, wanta alim bersuami itu merintih dan mendesah, menikmati setiap gerakan tangan Asep.

“eemmhh..baang…sudaahh..jangaanhh…uuffhh… baanghhh…” rintih mbak Tika, wanita alim berjilbab itu tertahan. Kedua tangannya menutupi mulutnya, seakan sia-sia menahan rintihan birahi sang wanita berjilbab. Matanya merem melek menahan kenikmatan birahi.

Melihat korbannya sudah terbawa nafsu birahi, Asep meneruskan gerakan tangannya dan ia singkapkan rok panjang Mbak Tika sampai ke pangkal pahanya. Wanita berjilbab yang montok itu pasrah, bahkan menaikkan pinggulnya sedikit, memudahkan Asep menaikkan rok panjangnya. Terlihatlah wanita alim berjilbab lebar duduk bersandar ditembok dalam masjid yang sunyi, dengan rok panjang yang sudah tersingkap sampai kepangkal pahanya, mendesah dan merintih penuh kenikmatan dirangsang oleh seorang tukang becak.

Tersingkapnya rok mbak Tika memperlihatkan gundukan vagina merah ranum yang bengkak. Mendengar rintihan nikmat dari mbak Tika, Asep lalu meningkatkan gerakannya. Ia merasa Mbak Tika tidak akan melakukan perlawanan yang berarti kepadanya.

Lalu tangannya meraih batang paha putih Mbak Tika dan dengan kasar ia remas paha wanita berjilbab itu. Mbak Tika membuka mata. Ia pandangi Asep dengan pandangan sayu. Kemudian gadis alim itu sedikit berontak. Hati kecilnya sadar bahwa ia tidak boleh terhanyut. Tangan mulusnya berusaha menepis tangan Asep. Asep yang mengetahui bahwa sebenarnya saat itu Mbak Tika telah bangkit birahinya, segera bertindak cepat.

Asep meraih pipi Mbak Tika dan ia ciumi bibir merah Mbak Tika. Dari bibir lalu ia ciumi juga telinga Mbak Tika dari luar jilbab merah tuanya yang berbahan kaus. sebelah tangannya bergerak meremas buah dada yang saat itu masih terbungkus baju longgar. Mbak Tika awalnya melakukan sedikit perlawanan, namun birahi yang menggebu menghanyutkannya, ankhirnya wanita berjilbab yang bahenol itu hanya terpejam pasrah. Asep lalu menyampirkan jilbab panjang mbak Tika kepundaknya, membuka satu per satu kancing baju mbak Tika itu sampai semuanya terlepas lalu dengan sedikit paksaan melepas baju mbak tika.  tampaklah dada dan bahu Mbak Tika yang putih mulus.

Seumur hidupnya baru kali itulah ia mendapatkan kesempatan memegang kulit tubuh wanita berjilbab secantik Mbak Tika. Dada Mbak Tika masih terbungkus BH hijau muda ukuran 34b. Kemudian ia ciumi pangkal leher jenjang mbak tika yang masih tertutup jilbab yang sudah tersampir, lalu turun ke belahan dada Mbak Tika. Di sana mulutnya diam dan terus melakukan aksinya. Lalu tangan Asep meraih pengait BH itu dan membukanya, sehingga dada wanita alim itu terbuka seluruhnya, memperlihatkan buah dada yang putih dan sekal. Saat itu tinggal rok Mbak Tika saja. Dada yang putih mulus itu ia jilati inci demi inci. Asep tidak ingin kesempatan emas itu hilang. Mbak Tika saat itu hanya merem melek dan merintih-rintih menikmati aksi Asep. Penolakannya sudah tidak tersisa.

Lalu Asep merebahkan tubuh Mbak Tika di lantai keramik masjid itu dan ia kemudian beralih ke arah bawah pusat Mbak Tika untuk membuka rok panjang Mbak Tika. Setelah rok kerja itu terbuka, maka yang tampak adalah sebuah celdam merah menutupi goa terlarang milik Mbak Tika. CD itu ia buka, sehingga Mbak Tika benar-benar bugil saat itu, hanya meninggalkan jilbab merah tua yang tersingkap, dan kaus kaki putih.

Dengan jarinya, lobang Mbak Tika ia korek. Dimainkannya daging kecil itu. Wanita alim itu menggelinjang dengan erotisnya. Asep lalu membuka semua pakaian kumal yang melekat di tubuhnya. Lalu ia baringkan badannya di antara kedua paha Mbak Tika. Penisnya tegak menantang ingin masuk ke dalam lobang Mbak Tika. Lalu ia buka paha wanita berjilbab yang montok itu dan terlihat lobang yang siap dimasuki oleh penis Asep.

Mbak Tika diam menunggu dengan pasrah. Birahinya sudah diubun-ubun. Penis Asep amat panjang dan besar. Lalu Asep memasukkan penisnya dan Mbak Tika sempat mengeluh sakit.

“Aduuuuuh….mmmhhh… Bang… pelaaan… sakit…” katanya.

Asep terus memajumundurkan pelirnya selama kurang lebih 30 menit. Ia tidak peduli dengan keluhan Mbak Tika. Sudah lama ia menanti saat itu. Lalu ia muntahkan spermanya sebanyak-banyaknya ke dalam rahim wanita alim berjilbab itu. Sampai banyaknya, hingga meluber menetes kelantai masjid. Bersama itu juga, mbak Tika menjerit tertahan. terasa cairan hangat membalur seluruh batang penis Asep. Sekian lama dua insan itu diam terengah-engah, dan tubuh yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme, dilantai sebuah masjid yang sunyi.