Memek Akhwat Kampus : Ningsih 2 Diperkosa Tukang Becak

ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuh Ningsih. Ningsih rasakan kontolnya mulai menggosok-gosok paha dan selangkangan Ningsih. Ningsih sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahi Ningsih sudah berada di ambangnya. Ningsih sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulut Ningsih dan memenuhi kamar kost sempit gadis berjilbab itu.

Sore hari, Ningsih terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih terasa lemas setelah diperkosa para polisi bejat dari malam sampai pagi harinya. Saat ia merasakan selangkangannya sakit, ningsih kembali menangis. Ia menangis bukan hanya karena rasa sakit dan marah terhadap para pemerkosanya, tapi juga marah pada dirinya sendiri, mengapa juga turut menikmati perkosaan itu. Segera ia keluar kamar dan bergegas mandi. Ia berusaha membasuh perasaan kotor yang ia rasakan. Semua noda sperma terasa masih lengket pada tubuhnya.

Setelah mandi, Ningsih bergegas berpakaian. Perasaan capek yang ia rasakan sudah sedikit berkurang. Ia memakai baju panjang coklat muda dan rok yang juga sama, dengan jilbab putih lebar yang manis. Wajahnya yang putih mulus berhidung mancung terlihat semakin cantik. Rautnya yang lesu karena masih terbayang perkosaan semalam tidak menghilangkan kecantikan wajahnya.

Sore itu rumah kostnya sepi. Tidak ada penghuni kost yang lain, karena sore itu kebanyakan semua penghuni kost sedang kuliah, atau ngaji atau pergi cari makan sore. Ningsih yang sendirian tidak mengatakan apa yang terjadi pada mereka. Ia merasa sangat malu.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan rumah kost itu. Ningsih terkejut. Trauma perkosaan yang ia alami membuatnya paranoid. Namun segera ia berpikir, tak mungkin para polisi bajingan pemerkosa itu berani datang kekostnya. Segera Ningsih beranjak bangun dari tempat tidurnya, menghapus butiran air mata yang tergenang di matanya dan bergegas beranjak membuka pintu depan.

Seorang laki-laki separuh baya berdiri didepan pintu. I amenyeringai lebar. Dilihat dari tubuhnya yang kekar dan celana cekak yang ia pakai serta tubuhnya yang hitam, sepertinya orang tua itu adalah seorang tukang becak.

“boleh saya masuk, neng? Tanya tukang becak itu. Tanpa menunggu jawaban, sang tukang becak itu langsung masuk kedalam rumah kost Ningsih, dan menutup pintu depan. N ingsih yang etrkejut tak mampu berbuat apa-apa.

“mau apa, Bang?” tanya Ningsih gelagapan. Melihat orang tua yang kekar dan hitam itu, trauma Ningsih kembali membayanginya.

“mau ngembalikan ini, neng, dua polisi ngasih ke saya. Katanya saya suruh minta upah sama eneng…” kata pak becak itu, masih dengan menyeringai, sambil mengulurkan sebuah dompet. Ningsih segera mengebnalinya. It udompetnya yang tertinggal di kantor poisi, ketika para polisi bajingan itu menikmati tubuh sintalnya.

“terima kasih bang…” jawab Ningsih sembari mengulurkan tangan, hendak mengambil dompet yang diulurkan sang tukang becak tadi. Tapi serta merta sang tukang becak menyambar dan menggenggam erat tangan putih halus gadis manis berjilbab itu sambil masih menyeringai. Ningsih semakin ketakutan.

“eneng cantik banget neng… bahenol pula neng… pake baju longgar ma jilbab kayak gni juga tetep keliatan cantik dan bahenol neng… pantes polisi2 tadi ketagihan neng… abang juga mau neng… kata polisi2 tadi minta upahnya jangan pake uang, tapi pake memek aja neng…” kata tukang becak tadi, bagaikan petir menyambar di siang jari di benak Ningsih. Segera ia berusaha melepas tangannya. Namun cengkeraman sang tukang becak terlampau kencang.

“jangan baaang….ntar saya kasih uang, baaaang…” kata ningsih memelas. Sang tukang becak malah semakin erat menggenggam tangan Ningsih dan dengan tangan yang lain, ia memelorotkan celana cekaknya, memperlihatkan kontol yang besar dan hitam, sudah mengacung tegak berkilat.

“ayo neeng… katanya polisi2 tadi eneng seneng… abang pingin dielus pake tangan mulus eneng.. kontol abang pengen digesekkan ke pipi putih eneng… abang pengen nggenjot memek eneng… kontol abang pengen ngerasain memeknya cewek yang pakek jilbab gedhe kaak eneng.. ayo neeeeng…” kata pak becak itu, membuat Ningsih semakin syok. Ia tak mampu berkata apa2. Ketakutannya membuatnya tak mampu bergerak dan berkata-kata. Selain itu ia juga kaget, bagaimana mungkin apra polisi yang memperkosanya tadi malam tau kalo Ningsih juga terhanyut dan menikmati iperkosaan atas dirinya. gadis manis

“Nggak, Bang.. Cukup. Jangaaan… Sudah tinggalkan saya.. Tinggalkan rumah ini,” kata Ningsih panik, cemas, takut dan rasanya pengin nangis atau minta tolong tetangga.

Tetapi semuanya itu langsung musnah ketika tanpa terasa tangan Ningsih yang telah berada dalam genggaman tukang becak itu ditarik dan disentuhkan dan digenggamkan ke batang kemaluannya yang kini telah bangkit membusung, dengan sepenuh liku ototnya, dengan semengkilat bening kepalanya, dengan searoma lelaki yang menerpa dan menusuk sanubari Ningsih.

“Lihat dulu, neng.. Jangan takut.. Aku nggak akan merugikan eneng, koq. Eneng ntar pasti keenakan deh neeng…” ucap bisik getar-nya begitu terdengar penuh pengalaman dan sangat menyihir. Dan Ningsih benar-benar menjadi korban tangkapan yang bak rusa kecil dalam terkaman singa pemangsanya. Terasa desiran birahi didalam benak gadis berjilbab itu.

“Lihat dulu neng…” sekali lagi diucapkannya.

Kali ini dengan tangannya sambil meraih kemudian menekan bahu Ningsih yang tertutup jilbab untuk bergerak merunduk atau jongkok. Tanpa perlawanan berarti dari Ningsih, gadis berjilbab itu berjongkok. Dan langsung didepan wajah gadis alim berjilbab itu telah terlihat mengacung kontol besar dan hitam milik pak tukang becak.

Ini bukan saja pesona. Ini merupakan sensasi bagi Ningsih, seorang gadis alim santun yang berjilbab itu. Kini Ningsih bergetar. Dengan jantung Ningsih yang berdegup-degup memukul-mukul dada mata Ningsih nanar menatap kemaluan tukang becak itu. Kesakitan namun juga kenikmatan yang ia rasakan tadi malam terbersit lagi didalam pikiran sang gadis alim. Gelora orgasme yang berkali2 ia capai juga kembali terbayang. apalagi dengan kemaluan besar hitam keras nampak sangat ‘ngaceng’ bak laras meriam yang lobangnya mengarah ke wajah Ningsih. Ningsih langsung lumpuh dan luluh, karena syok, namun juga karena gelora birahi yang kembali membuncah. Demikianlah pula saat Ningsih saksikan ujung meriam itu mendekat, mendekat, mendekat hingga menyentuh pipi Ningsih , hidung Ningsih dan bibir Ningsih. Sang tukang becak memegangi belakang kepala ningsih yang tertutup jilbab dengan satu tangan, dan menggesek-gesekkan kontolnya ke wajah ningsih yang putih mulus dengan tangan yang lain. Gadis berjilbab itu mulai mendesah-desah. Matanya mulai sayu. Tidak terdengar lagi katak2 penolakan. Kontol hitam sang tukang becak terus dielus-eluskan ke pipi, bibir, dan hidung Ningsih yang putih.

“Jilat, neng, isep. Isep kontol saya , neng. saya ingin merasakan bibir neng jilbab yang sangat cantik ini. saya ingin merasakan isepan mulut neng” kata-kata kotor pak tukang becak seperti bensin yang semakin membakar birahi ningsih. Pelan-pelan pak becak itu menggesek-gesekkan kontolnya ke mulut tipis sang gadis berjilbab itu.

Tangan kanannya menekan kepala Ningsih dan tangan kirinya pelan-elan memasukkan kontolnya ke mulut Ningsih. Bagaimana Ningsih mampu mengelak sementara Ningsih sendiri serasa lumpuh. Gads sopang yang berjilbab lebar itu merasakan ada asin-asin di lidahnya. Ningsih tersadar. Ningsih jadi sepenuhnya sadar namun segalanya tengah berlangsung. Ningsih tak mampu menghindar, baik dari kekuatan fisik Ningsih maupun dari tekad yang dikuasai rasa bimbang. Ningsih ingin meronta, namun ketakutan dan syok mengalahkannya. Birahi juga. Nampak pemandangan yang menggairahkan, dmania seorang gadis cantik berjilbab lebar berjongkok sambil mengulum kontol hitam seorang tukang becak.

Tidak lama. Mungkin baru berlangsung sekitar 1 atau 2 menit saat kontol itu terasa semakin mengeras dan memanas. Mulut Ningsih penuh dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa asin itu. Sambil berdiri mengangkangi Ningsih yang jongkok di depannya si Abang dengan sangat kuat mencegkeram kepala gadis berjilbab itu dan menggoyangkan pinggulnya mendorong dan menarik kontolnya ke mulut Ningsih. Lagi, lagi, lagi. Hal itu membuat gadis berjilbab itu tersedak-sedak. Rasanya ujung kontol itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokan Ningsih.

Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh muncrat ke haribaan mulut Ningsih. Gadis berjilbab itu tahu persis, sama seperti tadi malam, si Abang telah menumpahkan air maninya ke mulut Ningsih. Dan kemudian yang tak Ningsih duga sebelumnya adalah saat dia memencet hidung Ningsih hingga dengan ngap-ngapan gadis berjilbab itu terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokan Ningsih.

Sepertinya Ningsih minum dan makan kelapa muda yang sangat muda. Lendirnya itu demikian lembut memenuhi mulut untuk Ningsih kunyahi dan terpaksa menelannya. Gadis berjilbab itu semakin syok, dan sudah tak mampu berbuat apa-apa. Ia hendak muntah, namun sang tukang becak mencengkeram mulutnya dan menariknya keatas, sehingga ia tak bisa muntah.

Gadis berjilbab yang cantik dan bahenol itu masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang memenuhi rongga mulutnya saat sang tukang becak menggelandang ke kamar tidur Ningsih yang pintunya terbuka. Dengan tenaga kelelakiannya dia angkat dan baringkan tubuh Ningsih ke ranjang. Entah kekuatan apa, Ningsih tak mampu mengelakkan apa yang si Abang ini perbuat pada Ningsih. Dia lepasi rok panjang Ningsih. Dia tarik hingga robek baju Ningsih.

Dia renggut BH- Ningsih seketika hingga Ningsih juga yakin kancing-kancingnya lepas. Dan tak ayal pula di renggut celana dalam Ningsih. Dia ciumi celana itu sambil menebar senyuman birahi dari gelora syahwatnya yang sedang terbakar berkobar. Kemudian rebah menindih tubuh telanjang gadis berjilbab itu yang sangat bahenol dan menggairahkan.

“Neng, biar abang buat neng ketagihan yaa.. Nikmati kontolku neng. Enak lhooo. Para lonte yang kukencani saja pada ketagihan…” begitu suara orang yang dilanda prahara birahi sambil tangannya meremasi pinggul kemudian bokong Ningsih yang montok sementara bibirnya yang demikian tak terawat nyosor untuk melumat bibir Ningsih. Gadis berjilbab itu berusaha menolaknya. Rasa jijik dan enggan menderanya.

Namun sasaran berikutnya benar-benar membuat Ningsih menyerah. Dia ‘kemot-kemot’ pentil susu Ningsih. Dia gigiti dagingnya. Entah berapa lama dia isepin dan tinggalkan cupang-cupang kotor pada seluru bidang dada Ningsih , leher Ningsih , bahu Ningsih , ketiak Ningsih. Kemudian juga turun keperut, ke selangkangan, ke paha Ningsih. Semua itu membuat gadis berjilbab itu merem melek keenakan. Ia menyadari bahwa saat itu ia sedang diperkosa, namun ia tak mampu menolak rasa nikmat yang idarasakan.

Dan ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuh Ningsih. Ningsih rasakan kontolnya mulai menggosok-gosok paha dan selangkangan Ningsih. Ningsih sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahi Ningsih sudah berada di ambangnya. Ningsih sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulut Ningsih dan memenuhi kamar kost sempit gadis berjilbab itu.

“Tolonng baang.. Ayoo, Bang.. Aku sudah nggak tahaann.. Toloong.. Enak bangeett baang.. Ningsih mau kontol abaang.. Biar Ningsih kulum lagi nanti yaa…” kata2 kotor yang keluar dari bibir seorang gadis berjilbab itu membuat sang tukang becak semakin terbakar nafsunya. Segera ia menuntun kontol besarnya untuik menembusi kemaluan Ningsih yang sudah sangat menantinya.

Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung kontol dahsyat itu sedang menerpa-terpa bibir kemaluan Ningsih ketika gadis berjilbab itu meraih orgasme pertamanya. Ningsih menjerit dan mendesah tertahan. Gadis berjilbab itu sudah dikuasai nafsu syahwat. Ningsih rajam pundak si Abang dengan cakar Ningsih. Ningsih hunjamkan kuku Ningsih ke dagingnya. Rasanya kemaluan Ningsih demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan itu menembusinya. Namun rasa gatal ini sangat dahsyat. Si Abang cepat menerkam bibir Ningsih sambil mendesakkan kontolnya dengan kuat ke lubang sempit gadis berjilbab itu.

Begitu blezz.. Ningsih langsung diterpa orgasme kedua Ningsih, Hanya selang 10 detik gadfis berjilbab itu mendapatkan kembali orgasmenya.

Ternyata memang inilah. Dalam hujan keringat yang menderas dari tubuh Ningsih dan tubuhnya selama 2 jam hingga jam 6 sore, gadis berjilbab itu mendapatkan orgasme beruntun Ningsih hingga sekitar 10 atau 12 kali. Ningsih tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini. Kenikmatan ketika memeknya digenjot sebuah kontol besar dan hitam milik pak tukang becak. Saat semuanya berakhir, dan sang tukang becak menumpahkan tets maninya yang terakhir didalam memek Ningsih, ningsih tertidur lelap, dengan perasaan yang campur aduk antara marah, benci, menyesal, namun juga puas yang teramat sangat.