Memek Akhwat Kampus : Ningsih 1 diperkosa polisi

Kini Ningsih tinggal memakai jilbab yang telah disampirkan ke lehernya, dan kaus kaki putih yang membuat kakinya semakin seksi dan menggairahkan. Ningsih dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Si gemuk pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Si gemuk mulai menempel di lubang anusnya. “Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan…” “Aaahkk! Jangaaan!”

Dari sebuah pengajian, seorang dara cantik yang alim, Ningsih, mengendarai motornya pulang ke kostnya. Jam ditangannya menunjukkan pukul 20.30. untung malam minggu, jadi kostnya yang berjarak 30menit itu tidak akan dikunci, karena di malam minggu, jam malam di rumah kostnya adalah jam 22.00. wajahnya yang cantik dan putih terasa sangat kusam karena polusi yang biarpun malam tetap tinggi. Tubuhnya yang montok terasa lengket. Baju terusan biru tua dan jilbab lebarnya terasa menyatu di badannya dikarenakan keringat karena memang ia belum mandi sejak tadi pagi. Gadim alim ayu itu ingin segera pulang, mandi dan tidur.

Di sebuah perempatan yang sepi, lampu lalulintas terlihat berwarna merah. Melihat kekanan kiri, merasa jalanan sepi, Ningsih memutuskan untuk menerobosnya. Ia ingin segera pulang, den juga agak takut berada di perempatan sendirian. Tiba2 belum ada 200meter, a merasakan motornya goyah. Segera ia meminggirkan motornya, dan melihat ban belakang motornya. Yang ia takutkan terbukti. Ban belakang motornya bocor!! Terpaksa ia menuntun motornya ke tukang tambal ban terdekat. Belum ada 10 meter ia menuntun, tiba2 sari belakang datang mobil pick up polisi yang memepetnya. “maaf mbak! Saya tadi lihat anda menerobos lampu merah! Anda harus ikut kami ke kantor polisi!” kata polisi yang keluar dari mobil kepada Ningsih. Gadis berjilbab itu terpaksa menuruti perintahnya.

Dibantu oleh polisi tadi, ia menaikkan motornya ke bak belakang pick up, dan duduk di kursi samping sopir, ikut ke kantor polisi. “cantik2, berjilbab lagi, kokj malam2 masih di jalan, mbak? Nggak takut diperkosa?” tanya sang polisi. Nampak pandangannya menelusuri setiap lekuk tubuh Ningsih yang kemontokannya terlihat samar dan justru semakin menggairahkan dibalik baju terusan panjang dan jilbab lebarnya. Ningsih yang agak risih oleh pandangan polisi itu agak memutar duduknya agak membelakangi sang sopir, sambil berpura-pura memandang lewat jendela samping kiri mobil. Justru sang polisi semakin terangsang disodori pantat montok dan bahenol Ningsih, yang semakin menggairahkan tertutup baju terusannya. “dari pengajian pak…” kata ningsih pelan. Suaranya yang lembut dan terdengar pasrah semakin membuat kontol polisi itu berontak. “pengajian apa pengajian….” Kata polisi itu. Ningsih merasa tersinggung dengan perkataan melecehkan polisi itu, namun tidak berani berbuat apa2.

Waktu itu sudah lewat pukul 9 malam saat mereka berdua sampai di sebuah kantor polisi kecil yang sepi, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa Ningsih. Ketika Ningsih masuk, Sersan itu memandangi tubuh Ningsih dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Ningsih. Baju terusan dan jilbab lebar yang dipakai ningsih semakin membuat birahinya meninggi. Sungguh ia ingin merasakan kelegitan memek seorang gadis alim berjilbab.

“maaf, mbak, bisa minta surat kendaraannya?”tanya sang polantas. Ningsih kebingungan, karena memang motornya adalah motor “bodong” yang tidak mempunyai surat. “ketinggaan pak…” katanya lirih, lembut, dan terdengar pasrah. Polantas dan sersan tadi memperhatikannya. Wajahnya yang putih dan cantik, bibir yang tipis dan terlihat lembut, semakin membuat mereka konak. “wah, kami nggak bisa ambli resiko mbak. Bisa jadi mbak itu komplotan maling motor. Mbak bisa masuk ke sel. Hanya sampai kami mengecek kebenaran tentang motor itu. ” ningsih terkesiap. “Hanya beberapa jam mbak…” kata polantas itu. Matanya masih terus jelalatan menjelajahi tubuh Ningsih. Ningsih yang sudah panik terpaksa pasrah dan menurut saat sersan tadi membawanya kedalam sel yang kotor dibagian belakang kantor polisi. Lalu ditinggal sendirian.

Sepuluh menit kemudian, seorang polisi yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Seorang lagi berpakaian preman yang tinggi besar berbadan hitam, botak, dan umurnya kira-kira 45 tahun masuk ke ruang tahanan. Polisi tadi berkata, “wah, ada gadis cantik nih!! Wajahnya polos banget!! Menggairahkan!!” si botak menimpali, “pakek jilbab yah? Aku dari dulu pingin banget ngerasain memeknya cewek berjilbab kayak gini. Katanya legit banget!!” Ningsih sangat takut mendengar nada bicara mereka, apalagi terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.

Si botak keluar, lalu tak berapa lama lagi masuk sambil membawa kunci sel Ningsih, lalu membuka sel Ningsih dan masuk ke dalam. Ningsih yang ketakutan segera merapatkan tubuhnya ketembok, seolah berusaha menembus tembok itu dan melarikan diri dari dua olisi bejat itu. Kepalanya menggeleng2 menolak, dan airmatanya mulai menetes turun ke pipinya yang putih. “Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kami nggak akan nyakitin kamu. Mengerti!” si gemuk langsung memegangi kedua tangan Ningsih. sementara Si botak mendekap erat Ningsih dari belakang, menggosok-gosokkan selangkangannya ke pantat Ningsih yang montok yang mesih terbalut baju terusan. “huuu…huuu… jangaaaan paaaakk…” tangis Ningsih pecah. Ia berusaha berontak.

Ningsih terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Si gemuk yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Ningsih, melemparkan tubuh bahenol yang mesih terbalut baju terusan itu hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Ningsih. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Ningsih ke rangka di atas kepala Ningsih. Secepat kilat si botak menyibakkan jilbab lebar ningsih dan menyampirkannya menyilang mengelilingi leher Ningsih, lalu membuka kancing baju terusan Ningsih dari dada atas sampai ke perut, dan merenggut lepas BH yang dipakai Ningsih. Kini Ningsih menangis sesenggukan sambil terus memohon untuk dilepaskan. Bagian dada dan perutnya sudah terbuka lebar, memperlihatkan buah dada besar yang sangat putih, dengan perut yang juga putih menggairahkan. Perlawanannya tak berarti karena terus dipegangi oleh Si gemuk. “Wow, lihat dadanya.”

Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Ningsih. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada gadis alim berjilbab itu, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Ningsih mengeras dan puting susunya mengacung ke atas, terlihat memerah. Kadang mereka mengigit puting susu Ningsih, sedangkan Ningsih hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya. Bahkan sesaat terlihat Ningsih menggelinjang, saat lidah kasar si botak menyapu putingnya. “eeenngghhh……” terdengar lenguhan dari mulutnya. Sungguh ia belum pernah diperlakukan seperti ini, sehingga tapa sada, birahinya tersulut.

Sebuah pemandangan yang erotis, ironis, namun sangat menggairahkan. Seorang gadis cantik yang alim, berjilbab lebar dan berbaju longgar yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dari pikiran kotor para lelaki bejat, kini terbaring tak berdaya dengan jilbab tersingkap dan buah dada serta perut yang terbuka lebar, penuh liur dari dua orang polisi yang memperkosanya. Dari mulutnya terdengar lenguhan dan desahan birahi yang terdengar semakin meninggi, disela jeritan dan kata2 penolakan yang seperti dikatakan hanya untuk menjaga kehormatannya.

Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Ningsih. Si botak mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Si gemuk mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Ningsih menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya. Sungguh gadis cantik berjilbab itu takut, karena selama ini ia tidak pernah melihat kontol pria sebelumnya, dan saat ia melihat kontol yang sebesar itu, ia takut membayangkan seperti apa rasa sakit yang akan dideritanya.

“Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.” kata Si botak. “Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!” “Dia pasti sempit sekali. Biasanya masih perawan, kalo cewek berjilbab lebar tuh!”, kata Si gemuk sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Ningsih. Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Ningsih menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri. “Betul kan, masih sempit sekali.”

SEMUA KARYA CIPTAAN INI HANYALAH FIKSI, DAN EDITAN DARI SEBUAH KARYA YANG BERJUDUL SAMA. TIDAK BERMAKSUD MENYUDUTKAN GOLONGAN TERTENTU, SEMATA-MATA HANYA ISENG DAN KARENA MENYUKAI SEMUA JENIS GADIS, JUGA YANG BERJILBAB. (PEN.)

Kemudian Si botak tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Ningsih. Baju terusan Ningsih yang panjang disingkapkan sampai ke perut dengan mudah. Celana dalamnya langsung melorot dan terbang ke sudut sel dengan cepat. Ningsih semakin takut. Jeritan dan isak tangisnya semakin keras. Rontaannya semakin intens, namun tak ada apa-apanya dibanding kekuatan duaorang polisi itu. Kemudian mereka membuka kaki Ningsih lebar-lebar dan Si botak memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama gadis berjilbab yang masih perawan itu. Ningsih mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Si botak membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Ningsih. Tiba2 ia menghentakkan kontolnya dengan keras, dan Ningsih melolong merasakan ada yang robek didalam lubang kemaluannya. Terlihat darah segar mengalir sedikit keluar. Si botak menyeringai. “ternyata beruntung sekali kita kali ini. Dapat perawan, peret, hangat lagi, memeknya!!”

Sementara itu, Si gemuk naik dan mendekati wajah Ningsih, mengelus-elus wajah cantik gadis berjilbab itu dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Ningsih menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Si gemuk yang hitam, sambil masih terhentak-hentak karena genjotan kontol si botak di memeknya. “Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Si gemuk sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir indah Ningsih. “Kamu belum pernah ngerasain kontol kan? Enak kok…” Ningsih tak bergeming. “Buka!” bentak Si gemuk. “Buka mulut kamu, brengsek!” sambil menampar pipi putih gadis berjilbab itu. Perlahan mulut Ningsih terbuka sedikit, dan Si gemuk langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut gadis cantik berjilbab itu.

Mulut Ningsih terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Si gemuk bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Si gemuk mulai bergerak keluar masuk di mulut gadis berjilbab itu, terlihat tidak semua batang kemaluan Si gemuk dapat masuk ke mulut Ningsih, batang kemaluan Si gemuk terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Ningsih. Ketika Si gemuk menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!” Ningsih, masih terisak dan terus terhentak-hentak karena sodokan kontok si botak, membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Si gemuk kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Ningsih, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Ningsih.

“San, dia nggak mungkin bisa masukin punya kamu ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!” Mereka kemudian bertukar tempat, Si gemuk sekarang ada di antara kaki Ningsih dan Si botak berjongkok di dekat wajah Ningsih. Si gemuk mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Ningsih. “eenggghhhh……mmmhhh…..!!” Ningsih mengerang lemah. Terlihat tubuhnya menggelinjang. Rupanya napsu birahi sudah mulai mendominasai tubuh gadis alim itu. Jeritannya sudah tidak terdengar lagi, tinggal isak tangis yang tertahan. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Si gemuk yang besar itu membuka bibir kemaluan Ningsih yang masih sempit. Si botak, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Ningsih. “Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Si gemuk ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.” Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Ningsih, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Si botak berada di wajah gadis berjilbab itu. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Ningsih. Setelah lima kali, keluar masuk, Si botak sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

“Saya keluuarrhh. Aaahhh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Ningsih, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Ningsih, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Gadis berjilbab itu berusaha menjerit, ketika sperma Si gemuk mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Si gemuk yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Ningsih meronta-ronta berusaha mencari udara.

“Iyya… yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh… aahhh… nikhmaattt!” Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Ningsih langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Ningsih berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Si botak tertawa melihat gadis manis itu terbatuk-batuk, “Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!”

Sementara Si gemuk yang masih mengerjai kemaluan Ningsih sekarang malah memegang pinggul Ningsih dan membalik tubuh Ningsih. Dengan cepat ia melolosi baju terusan Ningsih tanpa ada perlawanan dari Ningsh yang sudah lemas. Kini Ningsih tinggal memakai jilbab yang telah disampirkan ke lehernya, dan kaus kaki putih yang membuat kakinya semakin seksi dan menggairahkan. Ningsih dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Si gemuk pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Si gemuk mulai menempel di lubang anusnya. “Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan…” “Aaahkk! Jangaaan!” gadis berjilbab itu kembali menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Si gemuk berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Ningsih pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Si gemuk mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Si gemuk mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Ningsih. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Ningsih. Ningsih terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Si gemuk masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Si gemuk masuk, gadis berjilbab itu hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Si gemuk beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Ningsih menjerit-jerit. Si gemuk terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Ningsih. Si gemuk tidak peduli mendengar Ningsih berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Terlihat berulang kali batang kemaluan Si gemuk keluar masuk anus Ningsih tanpa henti. Akhirnya Si gemuk mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Ningsih, kemudian menyembur ke pantat Ningsih dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Si gemuk kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Ningsih lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Ningsih. Si gemuk kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Ningsih dan berdua dengan Si botak mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Si gemuk berkata pada Si botak, “Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!”

Dini hari, ketika Ningsih kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Ningsih. Mereka menendang tubuh Ningsih agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Si botak menyodomi gadis berjilbab yang sudah kelelahan itu sementara Si gemuk berbaring di bawah Ningsih dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan gadis alim itu. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Ningsih dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Ningsih. Mereka terus berganti posisi dan Ningsih terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Ningsih yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.

Keesokan paginya, Si gemuk masuk dan membuka sel Ningsih. “Kamu boleh pergi.” Gadis berjilbab itu segera mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Ningsih pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah kost ningsih dan kembali menangis sejadi2nya.